Info Seputar Sukabumi

Tampilkan postingan dengan label Kabupaten Sukabumi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kabupaten Sukabumi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 April 2018

Kawah Ratu Sukabumi

Kawah Ratu Sukabumi Jawa Barat

Kawah Ratu Berlokasi di lereng Gunung Salak, Kawah Ratu adalah sebuah kawah aktif yang mengeluarkan uap panas. 

Kawah Ratu adalah tempat favorit para pecinta alam karena untuk dapat mencapai Kawah Ratu, anda harus menempuh perjalanan mendaki melewati jalan setapak selama kurang lebih 3 jam. Bagi pendaki pemula, disarankan untuk tidak mendaki pada malam hari. 

Selain itu, jangan lupa membawa peralatan mendaki seperti sandal gunung, payung, kompas, jas hujan, senter, bekal makanan, dan lain-lain. 

Tidak hanya wisatawan lokal saja yang datang untuk wisata ke Kawah Ratu namun wisatawan dari luar daerah pun banyak yang datang kesana untuk melihat keindahan dari kawah ratu. Usahakan anda menjaga jarak dengan pinggir kawah sebab kawah tersebut memiliki suhu yang sangat panas.

Kawah Ratu merupakan tempat menarik yang bisa dikunjungi oleh para pecinta wisata alam. Yang menjadikan kawah ini berbeda dengan kawah-kawah lain adalah keberedaan aliran sungai. Kawah Ratu dilintasi oleh aliran Sungai Cikuluwung sepanjang kira-kira 1 km. 

Hal itulah yang menjadi daya tarik tersendiri dari kawah ini. Dilihat dari kejauhan, air sungai tersebut terlihat berwarna biru toska. Namun, saat kita mendekat, akan ada warna kuning di dasar sungai yang terlihat dengan jelas. Warna kuning tersebut adalah endapan belerang.

Lokasi Kawah Ratu sendiri bisa dikatan berada di perut Gunung Salak. Karna, kalau meneruskan perjalan dari tempat ini kita akan sampai ke Puncak Salak 1 (2.221 mdpl) dan Puncak Salak 2 (2.180 mdpl) yang terkenal angker itu. Adapun untuk jalur pendakian ke kawah ini sendiri ada tiga jalur yang sudah cukup terkenal. Dua di Bogor dan satu di Sukabumi. 

Berikut ini adalah 3 jalur tersebut:

1. Bumi Perkemahan Cangkuang
Jalur pendakian yang satu ini berada di Kabupaten Sukabumi. Tepatnya di Kecamatan Cidahu. Jalur trekking di Bumi Perkemahan Cangkuang ini memiliki panjang sekitar 4,5 km.
2. Bumi Perkemahan Gunung Bunder
Bumi Perkemahan Gunung Bunder berada di Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Lokasi bumi perkemahan ini berada di dekat pintu gerbang Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Jarak tempuh dari tempat ini ke kawah adalah sekitar 5 km dengan waktu perjalanan sekitar 3 jam.

3. Pasir Reungit
Pasir Reungit merupakan sebuah desa yang juga berada di Kecamatan Pamijahan, Bogor. Lokasi desa ini berada lebih tinggi dari jalur Gunung Bunder yakni pada ketinggian sekitar 1.173 mdpl sehingga jalur trekkingnya lebih pendek yakni sekitar 3,6 km. Estimasi waktunya sekitar 2 jam.

Tebing Panenjoan Sukabumi


Tebing Panenjoan Sukabumi Jawa Barat


Tebing Panenjon berlokasi di daerah desa tamnajaya Kec ciemas sukabumi, dari tempat tersebut anda bisa menikmati pemandangan daratan sukabumi dari atas tebing dengan ketinggian sekiatar 250 mdpl. 

Secara bahasa, panenjoan berasal dari bahasa sunda yaitu dari kata “tenjo” yang artinya melihat. Dengan ketinggian ini, Anda bisa melihat pesona keindahan alam Ciletuh yang tak bertepi. 

Untuk menuju aksebilitas tempat ini pun tidak mudah, anda harus melewati pelabhuan ratu dan di lanjutkan menggunakan boat selama sekitar 30 menit dan di lanjutkan dengan berjalan kaki melewati jalan setapak hingga samapi ke air terjun ini.

Bukit Panenjoan ini menampilkan pertunjukan alam yang menakjubkan. Disebut sebagai mega amfiteater karena kawasan Ciletuh Geopark memiliki wilayah yang sangat luas dan lengkap. Selain itu nama “mega” disematkan pada tempat ini karena orang yang mempromosikan tempat ini untuk pertama kali sehingga seterkenal ini adalah Ibu Mega Fatimah Rosana, beliau adalah Dosen Geologi UNPAD yang sebelumnya melakukan penelitian ditempat ini, dan kemudian di promosikan kepada masyarakat luas sehingga Ciletuh disahkan sebagai Geopark Nasional.

Dari tempat ini sangat terlihat luasnya Samudera Hindia dan terlihat lekukan indah dari pesisir Pantai Palangpang lengkap dengan pulau-pulau kecil yang menghiasi di sekitarnya. Jika cuaca sedang cerah dan bersahabat, kamu bisa melihat lukisan air terjun yang tergambar pada tebing tinggi di kawasan Geopark Ciletuh, air terjun yang paling terlihat adalah Curug Cikanteh.

Dari Bukit Panenjoan ini kamu bisa melihat 3 desa, yaitu desa Ciwaru, desa Mandra Jaya, dan desa Mekar Sakti. Secara morfologi Bukit Panenjoan ini berbentuk seperti tapal kuda dan mirip sebuah mangkuk dengan pemandangan alam yang sangat menakjubkan.

Puncak Darma Sukabumi

Puncak Darma Sukabumi Jawa Barat


Puncak Darma terletak di Desa Girimukti, Ciemas, Kabupaten Sukabumi. Memiliki ketinggian 230 mdpl. Untuk mencapainya kamu akan memakan waktu tempuh sekitar 2 jam-an. 

Yang menarik dari tempat ini adalah; di seperempat awal perjalanan kamu akan disuguhkan pemandangan desa-desa dan pohon-pohon yang rindang.

Puncak Darma adalah sebuah puncak yang berada di atas ketinggian tertentu dari permukaan laut dimana kita dapat menyaksikan secara langsung dan lebih dekat pemandangan indah Geopark Ciletuh. 

Dari puncak ini kamu bisa melihat lautan lepas, pulau-pulau kecil seperti Pulau Kunti, Pantai Palangpang, Teluk Ciletuh, pematang sawah nan hijau yang menyegarkan mata, bukit-bukit, dan juga curug-curug yang terlihat dari kejauhan.
Dari Puncak Darma ini kamu juga bisa melihat kapal-kapal tongkang yang mengangkut komoditas yang terlihat seperti batubara, tidak hanya itu saja kamu akan melihat kapal-kapal nelayan yang sedang sibuk mencari ikan. 

Ada juga perkebunan lengkuas, kunyit, jahe dan cengkeh. Percayalah, rasa bosan tidak akan kamu rasakan saat mengunjungi Puncak Darma.

Bukit Karang Numpang Sukabumi

Bukit Karang Numpang Sukabumi Jawa Barat

Bukit Karang Numpang berada di Kecatamatan Guruh Sukabumi ini bisa anda jadikan sebagai tempat ngecamp. Dan pemandangan malam dari atas ketinggian pun tak kalah indahnya dengan pemandangan bukit bintang di yogyakarta. 

Berada di Kecamatan Gunung Guruh, Kabupaten Sukabumi. Bukit yang beberapa waktu belakangan tengah trend di media sosial ini, terbilang baru bagi para wisatawan. Kian hari, kian banyak pendaki yang mengujungi Bukit Karang Numpang. 

Lokasinya sungguh asik untuk memandang indahnya Kota Sukabumi dari jauh. Kamu akan melihat barisan rumah dan lahan persawahan yang tampak seperti miniatur.

Bukit Karang Numpang memiliki panorama alam yang sangat indah, diatasnya kami disuguhi view pedesaan diselimuti kabut tipis dan pesawahan yang hijau serta barisan perbukitan membentuk bingkai alam yang sangat menakjubkan. Bersyukurnya, cuaca saat itu sedang cerah, kombinasi langit biru dan awan putih melengkapi keindahan alam yang ada di Bukit Karang Numpang.

Dari atas bukit, banyak tersebar sejenis batu karang yang berukuran kecil juga berukuran sangat besar. Namun sayangnya, batu karang tersebut terdapat banyak coretan atau vandalisme dan sampah plastik yang dibuang oleh pengunjung diantara sela batu.

Selain batu karang, Bukit Karang Numpang juga banyak ditumbuhi ilalang yang tumbuh secara liar, tingginya antara sekitar 2 sampai 4 meter lebih. Diantar rimbunnya ilalang tersebut terdapat sebuah jalur seperti labirin yang saling menghubungkan satu sama lain ke beberapa spot berfoto lainnya yang ada di Bukit Karang Numpang.

Dari sini, anda bisa melihat indahnya Sukabumi dari ketinggian, barisan rumah dan hamparan alam seolah berada didalam dunia lukisan yang begitu indah.

Pemandian Air Panas Cikundul Sukabumi

Pemandian Air Panas Cikundul Sukabumi Jawa Barat

Pemandian Air Panas Cikundul merupakan tempat wisata yang cukup banyak dikunjungi di Sukabumi. Tempat wisata ini cocok dijadikan sebagai tempat wisata terakhir ketika berada di Sukabumi. Hal itu dikarenakan saat anda lelah berkeliling di tempat wisata di Sukabumi anda bisa meredakan lelah anda dengan berendam di sumber air panas ini. 

Air panas dipercaya bisa menghilangkan kaki pegal-pegal, meredakan gatal-gatal dan menghilangkan nyeri sendi. Tidak hanya itu saja anda akan dibuat terpesona dnegan pengunungan yang ada di sekeliling pemandian air panas tersebut. 

Anda juga bisa melihat Sungai Cimandiri yang unik dan menarik. Keunikan yang ada di Sumber Air panas ini adalah meski hujan turun, air di sumber air panas itu tetap terasa hangat dan panas. 

Air Panas Cikundul dibangun sekitar Tahun 1990, dari jaman dahulu pemandian ini sangat populer di kalangan masyarakat Sukabumi, Jawa Barat. Namun setelah perubahan perkembangan teknologi, nama Air Panas Cikundul lebih dikenal wisatawan domestik maupun wisatawan lokal.

Dengan sumber mata alami dan pemandangan sekitar yang masih alami, menjadikan tempat ini digemari oleh wisatawan. Wisatawan bisa merasakan sensasi mandi air panas sambil menikmati aliran Sungai Cimandiri.

Pemandian Air Panas Cikundul berlokasi di Jalan Proklamasi No. 242, Desa Lembur Situ, Kelurahan Cikundul, Kota Sukabumi, Jawa Barat. Ada dua jenis kolam yang ada di pemandian ini, yakni kolan air panas dan kolam air dingin. Jadi, bagi anda yang mencari pemandian air dingin, disini juga menyediakan. Tidak perlu repot-repot lagi untuk mencari tempat yang menyediakan kolam air dingin.

Menurut Dinas Pariwisata sekitar, tiap tahun ada lonjakan pengunjung sekitar 5% sampai 10%. Pada tahun 2009, kawasan wisata tersebut dilengkapi dengan wisata arung jeram yang memanfaatkan Sungai Cimandiri. Pengembangan yang lainnya adalah dibuatnya rumah pohon yang menambah objek wisata di tempat tersebut. Namun, anda harus hati-hati karena tidak ada pengaman khusus di rumah pohon tersebut.

Pemandian Air Panas Cisolok Sukabumi

Pemandian Air Panas Cisolok Sukabumi Jawa Barat

Pemandian air panas Cisolok merupakan salah satu objek wisata yang harus Anda kunjungi jika ingin melepas lelah atau ingin mengembalikan semangat dan energi tubuh. 

Wisata air panas Cisolok memiliki keistimewaan berupa menyemburnya air dari tiga titik semburan air panas. 

Sumber air panas cisolok adalah pemandian air panas yang terletak berdekatan dengan pantai  pelabuhan ratu ( Cuma berjarak 15 kilometer ). Sesuai namanya wisata ini menawarkan air panas sebagai sajian utama. Awalnya Pemandian air panas cisolok dulunya di temukan oleh warga belanda yang tinggal di sukabumi dan menjadi tempat favorit para belanda pada jaman itu.

Suhu air cukup tinggi, kurang lebih 80 derajat celcius. Lokasi dapat dijangkau dalam waktu kurang lebih 10 menit dari Pantai Pelabuhan Ratu melalui Jl. Cipatuburan Pelabuhanratu.

Pemandian air panas cisolok memiliki hal unik yang membedakan dengan sumber air panas lain yaitu letaknya di daerah pantai dan tidak berada di pegunungan seperti kebanyakan tempat pemandian air panas lainya, dan para pengunjung yang datang kewisata alam sumber air panas cisolok dpat melihat secara langsung air panas yang menyembur dari celah bebatuan di tengah sungai.

Dalam waktu-waktu tertentu jika anda sedang beruntung, anda  dapat menyaksikan primata kususnya kera dan lutung yang berrgelantung di pepohonan di sekeliling pemandian air panas, dan terdapat tiga titik sumber air panas dengan suhu air sekitar 80 derajat celcius,jika tak ingin kulit anda melepuh,, jangan coba coba mandi di sumber air panas tersebut.

Sebenarnya sumber air panas cisolok sendiri tidak menyebur keatas, karena tekanan nya yang tidak terlalu besar, tetapi warga sekitar menumpuk bebatuan di celah – celah pada bagian air yang keluar. Sehingga air menyembur ke atas hingga dad yang mencapai ketinggian sekitar 3 meter. Pemandian ini tentu sajaa menjadi daya Tarik tersendiri bagi pengunjung yang datang.

Wisata alam sumber Air panas yang berada  di cisolok sukabumi bukan berasal dari pemanasan oleh magma di dalam perut bumi, air panas cisolok bersumber  dari Geyser ( Air panas yang melewati kerak bumi ) dimana tekanan dari dalam perut bumi sangat  besar, sehingga  menyebabkan air tanah bersuhu cukup tinggi, dan menyebabkan air panas tersebut menyembur keluar.

Sumber mata air cisolok berasal dari geyser maka air panas di sini tidak mengandung belerang. Tetapi bukan berarti tidak memiliki kasiat, sebab air panas yang keluar dari sumber air panas memiliki kandungan mineral yang tinggi sehingga mampu menyembuhkan penyakit rematik dan penyakit kulit.

Pemandian cipanas terbuka untuk umum dan terbagi dalam 2 kategori jika para pengunjung ingin menikmati air yang menyembur pengunjung dapat menyemburkan diri ke sungai. Sedangkan bagi anda yang ingin lebih santai dan privat dapat memilih ke wilayah kolam kolam yang di sediakan oleh pihak pengelola.anda juga disajikan pemandangan khas yang berada di wilayah pelabuhan ratu.



Geopark Ciletuh Sukabumi

Geopark Ciletuh Sukabumi Jawa Barat


Geopark Ciletuh adalah tempat wisata di Kota Sukabumi yang masih terbilang alami dengan suguhan panorama alam yang sangat memikat, dengan pemandangan pegunungan, pantai, bukit, hingga bebatuan purba. 

Geopark Ciletuh berada di Kecamatan Ciemas. Di area wisata ini juga terdapat air terjun, antara lain Curug Cimarinjung, Curug Cikanteh, Curug Ngelay. dan Puncak Manik. Lama perjalanan menuju Geopark Ciletuh sekitar 5 jam dari pusat Kota Sukabumi. 

Disini anda akan disuguhi sebuah Geopark dengan bentang alam yang unik. Dikawasan ini, anda bisa menikmati bermacam-macam tempat wisata. Ada banyak curug disini seperti curug Cimarinjung, Cikanteh, Sodong, Awang dan Ngelay. Bahkan ada curug yang mendapat julukan little Niagara karena bentuknya yang seperti air terjun Niagara, yakni Curug Awang.

Terletak di kawasan Ciletuh, Sukabumi, Jawa Barat, Geopark Ciletuh dikenal sebagai salah satu taman batu tertua di Pulau Jawa. Kawasan wisata ini pun telah diresmikan oleh UNESCO sebagai salah satu warisan dunia. Dikembangkan dengan basis konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat, kawasan ini kian ramai dan diminati wisatawan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Yuk, Berlibur ke Geopark Ciletuh!", https://travel.kompas.com/read/2017/12/25/103500727/yuk-berlibur-ke-geopark-ciletuh-.
Penulis : WIENDA PUTRI NOVIANTY
Terletak di kawasan Ciletuh, Sukabumi, Jawa Barat, Geopark Ciletuh dikenal sebagai salah satu taman batu tertua di Pulau Jawa. Kawasan wisata ini pun telah diresmikan oleh UNESCO sebagai salah satu warisan dunia. Dikembangkan dengan basis konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat, kawasan ini kian ramai dan diminati wisatawan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Yuk, Berlibur ke Geopark Ciletuh!", https://travel.kompas.com/read/2017/12/25/103500727/yuk-berlibur-ke-geopark-ciletuh-.
Penulis : WIENDA PUTRI NOVIANTY
Terletak di kawasan Ciletuh, Sukabumi, Jawa Barat, Geopark Ciletuh dikenal sebagai salah satu taman batu tertua di Pulau Jawa. Kawasan wisata ini pun telah diresmikan oleh UNESCO sebagai salah satu warisan dunia. Dikembangkan dengan basis konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat, kawasan ini kian ramai dan diminati wisatawan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Yuk, Berlibur ke Geopark Ciletuh!", https://travel.kompas.com/read/2017/12/25/103500727/yuk-berlibur-ke-geopark-ciletuh-.
Penulis : WIENDA PUTRI NOVIANTY
Geopark Ciletuh, merupakan taman alam batuan purba yang terbentuk menjadi indah setelah mengalami pelapukan selama jutaan tahun. Taman ini baru-baru saja diresmikan menjadi Geopark. Di sini, terdapat banyak spot wisata yang wajib dikunjungi satu-persatu. Dari air terjun atau yang biasa disebut curug, pantai, hingga sawah, semuanya sungguh indah.

Geopark Ciletuh memiliki sederetan air terjun, atau yang juga dikenal dengan sebutan curug. Salah satu dan yang paling terkenal adalah Curug Awang. Curug Awang ini juga disebut-sebut sebagai Niagara mini-nya Indonesia. Dari kejauhan, Curug Awang memang menyerupai Air Terjun terbesar di dunia tersebut, Niagara. Jelas saja ini versi mininya. Saat musim penghujan, debit air di air terjun juga meningkat.

Curug Tengah bisa dibilang masih satu saudara dengan Curug Awang. Diberi nama Curug Tengah karena lokasinya yang diapit oleh dua air terjun lainnya, yang merupakan keunikan dari curug yang satu ini. Selain itu, Curug Tengah ini airnya mengalir pas di tengah tebing yang luas. Air yang mengalir dari Curug Tengah ini mengisi danau di bawahnya yang cukup luas untuk berenang.

Curug Cimarinjung sudah bisa terlihat dari pertama kali mulai melangkahkan kaki di Geopark Ciletuh. Curug ini juga merupakan salah satu curug yang mudah dijangkau. Hanya perlu mengikuti jalan setapak sepanjang sekitar 400 meter, maka pemandangan indah Curug Cimarinjung ini sudah bisa dinikmati langsung di depan mata. Deretan tebing-tebing raksasa yang berwarna coklat di sekelilingnya membuat air terjun satu ini terlihat sangat gagah.

Pantai Palangpang merupakan muara dari Curug Cimarinjung. Dari pantai ini, pemandangan indahnya Curug Cimarinjung pun masih terlihat meski dari kejauhan. Pantainya yang berbentuk tapal kuda dipenuhi pasir-pasir yang halus dan sedikit mengandung karang. Tak akan menyakiti kaki meski kamu memutuskan untuk berjalan di pantai tanpa alas kaki.
Dari sederetan air terjun di Geopark Ciletuh, Curug Sodong merupakan yang paling mudah dijangkau. Kamu bisa parkir mobil langsung di depan air terjunnya.

Puncak Darma terdapat di ketinggian 230 mdpl di atas Desa Girimukti, Ciemas, Kabupaten Sukabumi. Untuk mencapai Puncak Darma bisa ditempuh dengan jalan kaki, dengan ojek, atau naik mobil 4 WD. Jika punya banyak waktu, nggak ada salahnya memilih hiking untuk bisa sampai puncak. Dibutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk bisa sampai puncak dan menikmati pemandangan Teluk Ciletuh yang berbentuk tapal kuda dari ketinggian.
Bukit Panenjoan merupakan tebing yang berada di ketinggian sekitar 250 mdpl di atas kawasan Geopark Ciletuh, Desa Taman Jaya Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Bukit ini bisa juga disebut gerbang yang menyambut saat memasuki area Geopark Ciletuh. Dari bukit ini, merupakan spot sempurna untuk menikmati keseluruhan area Geopark Ciletuh dari ketinggian.

Geopark Ciletuh Sukabumi merupakan destinasi wisata yang paling komplit. Selain Pantai, Air Terjun/Curug, Bukit, masih ada Taman, yang disebut Taman Purba dan lainnya.

Asal-usul Kampung Ciptagelar Sukabumi

Asal-usul Kampung Ciptagelar Sukabumi
Ada dua buah cerita lisan yang mengetengahkan asal-usul Kampung Ciptagelar. Yang pertama Kampung Ciptagelar berasal dari keturunan Pakuan Pajajaran, yaitu Prabu Siliwangi. Sementara cerita lisan yang kedua berasal dari keturunan Ki Demang Haur Tangtu, yang merupakan salah satu pengawal Prabu Siliwangi. Secara singkat kedua cerita yang dimaksud dapat dikemukakan sebagai berikut.

Di daerah Jawa Barat telah berdiri beberapa kerajaan, di antaranya Kerajaan Sunda. Pada saat kerajaan Sunda diperintah oleh Prabu Siliwangi (warga Kasepuhan Ciptagelar menyebutnya Kanda Hyang atau Galuh Wening Bramasakti), kerajaan ini memiliki sebuah pasukan khusus yang disebut Bareusan Pangawinan. 
Bareusan Pangawinan adalah pasukan khusus kerajaan Sunda yang bersenjata tombak. Anggota pasukan ini dipilih dan dilatih secara langsung oleh para bupati, patih, atau puun. Pelatih secara langsung ini disebut guru alas. Para guru alas ini dianggap memiliki pengalaman, taat, setia, dan memiliki pengetahuan yang luas tentang perang dan kesaktian.

Pasukan khusus Bareusan Pangawinan dipimpin oleh tiga orang, yaitu Demang Haur Tangtu, Guru Alas Lumintang Ken-dungan, dan Puun Buluh Panuh; mereka ditugaskan oleh Prabu Siliwangi untuk menyelamatkan hanjuang bodas dari serangan pasukan Banten (1579). Setelah mendapat tugas tersebut, ketiganya bersama sang raja segera mundur dari Pakuan (ibukota) Padjajaran ke arah selatan, ke sebuah tempat yang disebut Tegal Buleud.

Di daerah Tegal Buleud, Sang Raja membagi-bagi pengikutnya dalam kelompok-kelompok kecil dan memberi kebebasan kepada para pengikutnya tersebut untuk memilih jalan hidup masing-masing. Sang Raja sendiri memilih jalan untuk ngahyang (menghilang dari pandangan mats). Sementara itu, ketiga pimpinan Bareusan Pangawinan bertekad untuk kembali ke dayeuh (kota) yang telah ditinggalkan.

Dalam perjalanan menuju dayeuh, ketiga pimpinan Bareusan Pangawinan sepakat untuk berpisah dan menempuh jalan hidup masing¬masing, tetapi tetap memelihara hubungan satu dengan Iainnya. 
Perjalanan hidup Guru Alas Lumintang Ken-dungan dan Puun Buluh Panuh selanjutnya tidak diceritakan dengan jelas. Sementara itu, Ki Demang Haur Tangtu akhirnya menetap di daerah Guradog (Jasinga) hingga akhir hayatnya. Kuburan Ki Demang Haur Tangtu sekarang ini dikenal dengan sebutan Makam Dalem Tangtu Awileat. 
Di Kampung Guradog ini, Ki Demang Haur Tangtu mempunyai keturunan, yaitu warga yang sekarang bertempat tinggal di daerah Citorek dan dikenal dengan sebutan kasepuhan. Dan turunan Ki Demang inilah asal muasal berkembangnya kelompok sosial Kasepuhan. 
Dalam cerita rakyat daerah Cisolok disebutkan bahwa Ki Demang Haur Tangtu memperistri Nini Tundarasa, seorang gadis dari Kampung Kaduluhur. Nini Tundarasa inilah yang dianggap sebagai leluhur atau nenek moyang warga Kasepuhan Ciptagelar. Setelah menjadi satu di antara beberapa istri Ki Demang Haur Tangtu, Nini Tundarasa pindah dari Kampung Kaduluhur ke Kampung Guradog. Selanjutnya, keturunan mereka berpindah¬pindah tempat tinggal dari satu tempat ke tempat lainnya.

Dalam perjalanan sejarahnya, warga kasepuhan telah berpindah beberapa kali tetapi tetap berada di sekitar daerah Banten, Bogor, dan Sukabumi Selatan. Awal perpindahan dimulai dari Ieluhur mereka, yaitu Nini Tundarasa yang pindah dari Kampung Kaduluhur ke Kampung Guradog.

Satu di antara keturunan Nini Tundarasa bemama Ki Buyut Mar yang lahir di Guradog pindah ke Kampung Lebak Binong (Banten). Anak Ki Buyut Mar yang bernama Aki Buyut Mas kemudian pindah ke Kampung Cipatat (Bogor) yang kini dikenal dengan nama Kasepuhan Urug. Selanjutnya keturunan Aki Buyut Mas yang bernama Aki Wami alias Buyut Gondok memindahkan Kampung Gede ke kampung Lebak Larang (Banten).

Aki Buyut Warni mempunyai dua orang anak laki-laki, yaitu Aki Buyut Kayon dan Aki Buyut San. Aki Buyut Kayon menggantikan ayahnya menjadi sesepuh girang dan memindahkan Kampung Gede ke Kampung Lebak Binong. Pengganti Aki Buyut Kayon, bernama Aki Buyut Arikin memindahkan lagi Kampung Gede ke Kampung Tegallumbu (Banten).

Aki Buyut Arikin mempunyai enam orang anak, yaitu Aki Buyut Sal, Aki Buyut Mak, Aki Buyut In, Nini Buyut As, Aki Buyut Jasiun, dan Aki Buyut Si. Aki Buyut Jasiun atau Ki Ciung ditetapkan sebagai sesepuh girang menggantikan ayahnya Aki Buyut Arikin. 
Sejak masa kepemimpinan Aki Buyut Jasiun atau Ama Jasiun, kasepuhan mulai berkembang ke daerah Sukabumi Selatan. Aki Buyut Jasiun sendiri memindahkan Kampung Gede dari Tegallumbu ke Bojong Cisono (Sukabumi). Aki Jasiun mempunyai dua orang anak, yaitu Aku Buyut Las atau Aki Buyut Rusdi dan Nini Buyut Ari. Pengganti Aki Buyut Jasiun adalah Aki Buyut Rusdi.

Aki Buyut Rusdi memindahkan kedudukan Kampung Gede ke daerah Cicemet (Sukabumi). Perpindahan ini terjadi pada masa pendudukan Jepang. Di Cicemet, Kampung Gede menetap cukup lama sampai masa kemerdekaan hingga terjadinya pemberontakan DUTII. Akibat gangguan dari pemberontak DUTII, pada tahun 1957 Aki Buyut Rusdi memindahkan pusat kasepuhan (Kampung Gede) ke Cikaret. Selanjutnya, terjadi perubahan nama kampung Cikaret menjadi Kampung Sirnaresmi. 
Aki Buyut Rusdi mempunyai empat orang anak, yaitu Nini Buyut Lasm atau Ma Anom, Ama Sup, Abah Ardjo, dan yang keempat tidak disebutkan namanya. Abah Ardjo atau Ki Ardjo kemudian menggantikan ayahnya, Aki Buyut Rusdi menjadi sesepuh girang kasepuhan.

Pada saat menjadi sesepuh girang, Abah Ardjo beberapa kali memindahkan lokasi pusat kasepuhan yang disebut Kampung Gede. Pertama, Abah Ardjo memindahkan Kampung Gede dari Kampung Cidamar ke sebuah kampung di sekitar Kecamatan Cisolok. Kedua, Ki Ardjo lalu memindahkan lagi ke Kampung Ciganas. 
Kampung Ciganas mengalami perubahan nama menjadi Sirnarasa. Ketiga, setelah bermukim selama 8 tahun di Kampung Ciganas, Ki Ardjo memindahkan Kampung Gede ke Kampung Linggarjati. Keempat, Ki Ardjo memindahkan Kampung Gede ke Kampung Ciptarasa.

Ki Ardjo pernah menikah sebanyak tujuh kali dan mempunyai anak tiga belas orang. Dari isteri keenam yang bernama Ma Tarsih mempunyai tiga orang anak, yaitu Encup Sucipta, [is, dan Lia. Dari isteri ketujuh yang bernama Ma Isah mempunyai enam anak.

Setelah Ki Arjo meninggal, anak pertama dari Ma Tarsih yaitu Encup Sucipta, menggantikan kedudukannya sebagai sesepuh girang. Kini, keluarga Abah Ardjo tinggal di rumah yang berada di sekitar rumah sesepuh girang. 
Sesepuh girang pada saat dilakukan pendataan ini (2002) adalah Abah Encup Sucipta. Dia Iebih dikenal dengan nama Abah Anom (Bapak Muda) karena saat dia menerima jabatan sesepuh girang masih berusia muda yaitu 17 tahun. Jabatan sesepuh girang bersifat turun temurun dan selalu diwariskan kepada anak laki-Iaki (tidak harus yang sulung). 

Selain Kasepuhan Ciptagelar, di daerah Banten dan sekitamya terdapat beberapa masyarakat yang menamakan dirinya sebagai kasepuhan, antara lain Kasepuhan Urug (Bogor Selatan), Kasepuhan Citorek, Kasepuhan Cisungsang, Kasepuhan Ciherang, Kasepuhan Cicarucub, dan Kasepuhan Cisitu (semua berada di Banten Selatan) serta Kasepuhan Sirnaresmi (Sukabumi). 
Semua kasepuhan tersebut diikat oleh sebuah lembaga persatuan yang disebut Kesatuan Adat Banten Kidul (Adimihardja, 1989). Pusat kepemimpinan Kesatuan Adat Banten Kidul berada di Kasepuhan Ciptagelar dengan ketuanya Abah Anom Encup Sucipta.
- Sumber: disparbud.jabarprov

Taman Nasional Gunung Halimun Salak Sukabumi

Taman Nasional Gunung Halimun Salak Sukabumi

Taman Nasional Gunung Halimun - Salak adalah salah satu taman nasional yang terletak di Jawa bagian barat. Kawasan konservasi dengan luas 113.357 hektare ini menjadi penting karena melindungi hutan hujan dataran rendah yang terluas di daerah ini, dan sebagai wilayah tangkapan air bagi kabupaten-kabupaten di sekelilingnya. Melingkup wilayah yang bergunung-gunung, dua puncaknya yang tertinggi adalah Gunung Halimun (1.929 m) dan Gunung Salak (2.211 m).  

Keanekaragaman hayati yang dikandungnya termasuk yang paling tinggi, dengan keberadaan beberapa jenis fauna penting yang dilindungi di sini seperti elang jawa, macan tutul jawa, owa jawa, surili dan lain-lain. Kawasan TNGHS dan sekitarnya juga merupakan tempat tinggal beberapa kelompok masyarakat adat, antara lain masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul dan masyarakat Baduy.

Taman nasional gunung halimun salak merupakan tempat wisata alam di sukabumi yang mempunyai luas 113.357 hektar ini berlokasi di jalan Raya Cipanas, Kecamatan Kabandungan sukabumi. 

Dikawasan hutan lindung tersebut terdapat berbagai macam air terjun yang bisa anda kunjungi. Dan aliran sungai di kawaan tersebut masih sangat jernih yang bisa anda gunakan untuk bermain air bersama keluarga tercinta. 

Tempat ini juga sering di jadikan sebagai kawasan bumi perkemahan dan juga kegiatan outbound. Kegiatan pembuatan video cpmersil dan juga penilitian juga sering di lakukan di kawasan ini. 

Taman Nasional ini adalah yang terbaik dan satu-satunya yang mempunyai hutan lengkap di Pulau Jawa. Hewan-hewan langka yang dapat dilihat di TNGH adalah owa (Hylobates moloch), surili (Presbytis comata), macan tutul (Panthera pardus), dan elang jawa (Spizaelus barteisi).

Wilayah Gunung Halimun telah ditetapkan menjadi hutan lindung semenjak tahun 1924, luasnya ketika itu 39.941 ha. Kemudian pada 1935 kawasan hutan ini diubah statusnya menjadi Cagar Alam Gunung Halimun. 

Status cagar alam ini bertahan hingga tahun 1992, ketika kawasan ini ditetapkan menjadi Taman Nasional Gunung Halimun dengan luas 40.000 ha, sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 282/Kpts-II/1992 tanggal 28 Februari 1992. 

Sampai dengan lima tahun kemudian, taman nasional yang baru ini pengelolaannya ‘dititipkan’ kepada Taman Nasional Gunung Gede – Pangrango yang wilayahnya berdekatan. Baru kemudian pada 23 Maret 1997, taman nasional ini memiliki unit pengelolaan yang tersendiri sebagai Balai Taman Nasional Gunung Halimun.

Pada tahun 2003 atas dasar SK Menteri Kehutanan No.175/Kpts-II/2003, kawasan hutan BTN Gunung Halimun diperluas, ditambah dengan kawasan hutan-hutan Gunung Salak, Gunung Endut dan beberapa bidang hutan lain di sekelilingnya, yang semula merupakan kawasan hutan di bawah pengelolaan Perum Perhutani

Sebagian besar wilayah yang baru ini, termasuk kawasan hutan G. Salak di dalamnya, sebelumnya berstatus hutan lindung. Namun kekhawatiran atas masa depan hutan-hutan ini, yang terus mengalami tekanan kegiatan masyarakat dan pembangunan di sekitarnya, serta harapan berbagai pihak untuk menyelamatkan fungsi dan kekayaan ekologi wilayah ini, telah mendorong diterbitkannya SK tersebut. 

Dengan ini, maka kini namanya berganti menjadi Balai Taman Nasional Gunung Halimun – Salak, dan luasnya bertambah menjadi 113.357 ha.

- Sumber: wikipedia

Kamis, 22 Maret 2018

3 Danau Di Sukabumi Jawa Barat

Danau Situ Gunung Sukabumi


Sukabumi Jawa Barat selain memiliki pesona keindahan alam dengan 12 Pantai dan 11 Air terjun, juga ada 3 Danau yang melengkapi daa tarik sukabumi untuk wisatawan domestik bahkan turis asing.

Berikut ini adalah 3 Danau Di Sukabumi Jawa Barat:

1. Danau Batu Bacan

Danau Batu bacan Sukabumi

Danau Batu bacan merupakan kawasan wisata danau yang berlokasi di Ds. Bojongharjo, Kec. Cikembar sukabumi. danau ini mempunyai karakteristik air yang berwarna hijau. 

Danau ini dahulunya merupakan pertambangan batu yang dikelola warga sekitar. namun seiring berjlanya waktu tiba tiba air muncul dan menggenangi area pertambangan hingga terbnetuk  menajdi danau yang indah sperti sekarang ini. 

Uniknya danau Bacan tersebut tidak memiliki air resapan yang keluar dari bebetauan yang ada di sekellingnya, Air yang berada di danau tersebut adalah air hujan yang tertampung dari tahun-tahun sebelumnya.

2. Danau Sukarame

Danau Sukarame Sukabumi

Danau Sukarame atau disebut juga Situ Sukarame adalah danau yang terletak di kaki Gunung Salak. Panorama alam yang ditawarkan di kawasan wisata ini sangat indah, hamparan kebun teh yang mengelilingi menambah pesona daya tarik pemandangan sekitar. 

Udara di sini pun juga sangat sejuk dan segar. Memancing dan berselancar adalah kegiatan alam yang menarik untuk dilakukan di situ ini. Situ Sukarame merupakan destinasi favorit yang banyak dikunjungi orang. 

Disini anda akan ditawarkan sebuah pemandangan indah di kawasan wisata dengan hamparan kebun teh yang mengelilinginya. Udara di sini juga sangat sejuk dan segar. Kegiatan alam yang menarik dilakukan antara lain memancing dan berselancar menggunakan tali melintasi situ. 

Tempat wisata ini biasa dijadikan sebagai tempat perkemahan bagi kominitas pramuka. Pemandangan yang hijau serta di kelilingi oleh kebun teh yang sangat luas.

3. Danau Situ  Gunung

Situ Gunung Sukabumi

Situ Gunung adalah sebuah danau yang berlokasi di Kecamatan Kadu Dampit, Sukabumi. Berada di kaki Gunung Pangrango, sektiar 16 KM dari Kota Sukabumi, Situ Gunung adalah sebuah danau yang sangat indah dan hijau. 

Danau ini adalah salah satu lokasi favorit para fotografer Indonesia, terbukti dengan banyaknya jumlah gambar Danau Situ Gunung yang beredar. Seperti layaknya sebuah wisata danau, di sini anda dapat bermain perahu, berpiknik, berkemah, memancing, dan lain-lain. 

Untuk yang baru pertama kali ke Situ Gunung, saya sarankan jangan pada saat malam hari karena jalan ke Situ Gunung masih minim penerangan, selain itu sinyal handphone juga kurang bagus di daerah ini.
 

11 Curug Di Sukabumi Jawa Barat

Air Terjun Cikaso Sukabumi


Sukabumi Jawa Barat kaya akan pesona air terjunnya. Curug adalah istilah bahasa sundanya dari Air Terjun. Ada sebelas air terjun (Curug) di Sukabumi yang cocok untuk tujuan wisata domestik.

Berikut ini adalah 11 Curug Di Sukabumi Jawa Barat:


1. Curug Sawer

Curug Sawer Sukabumi

Curug Sawer berada di kawasan wisata situ gunung Kec kadudampit Sukabumi. Di sekitaran air terjun tersebut juga terdapat berbagai macam vila yang bisa anda sewa. Curug ini memiliki ketinggian sampai 25-30 meter. 

Curug Sawer masuk dalam pengelolaan hutan termasuk juga RPH Cipaku BKPH Gede Barat KPH Sukabumi. Di sini juga ditemui curug yang lain, yaitu Curug Cimanaracun, dimana Curug Cimanaracun adalah sumber dari danau Situ Gunung. 

Curug ini berjarak lebih kurang sekitar 200 meter dari Wisma Situgunung. Curug ini masuk dalam wilayah pengelolaan hutan termasuk RPH Cipaku BKPH Gede Barat KPH Sukabumi. 

Air terjun Curug Sawer merupakan aliran air dari sumber air Gunung Gede-Pangrango. Selain Curug Sawer, terdapat pula curug lain yang berada di atas nya seperti Curug Kembar, Curug Willy dan Curug Bengkok. 

2. Curug Cibeureum


Curug Cibeureum berada di kawasan taman nasional gede pangrango kabupaten sukabumi. Untuk menuju lokasi tersebut anda harus melewati area taman nasional gede dan jarak anatar air terjun dengan pintu masuk taman nasional adalah sekitar 500 meter. 

Curug Cibeureum ini memiliki ketinggian terjunan air 54 meter dan berada di kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP), dengan ketinggian sekitar 1050 meter dari permukaan laut (dpl). 

3. Curug Cikaso

Curug Cikaso Sukabumi

Curug Cikaso ini berlokasi di Kampung Cinti Ds Cibitung Kec Cibitung sukabumi. Untuk menuju ke lokasi ini anda harus melewati lembah yang agak jauh. 

Curug Cikaso berada di Desa Cibitung, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi. Curug ini berada tidak jauh dari kawasan wisata ujung genteng, jadi setelah anda menikmati pantai ujung genteng anda bisa menuju ke Curug Cikaso maupun sebaliknya. 

Dari lokasi parkir anda bisa menuju ke Curug Cikaso dengan dua pilihan yaitu menggunakan perahu atau dengan berjalan kaki. Air curug sendiri dipasok dari aliran sungai Cikaso sehingga warga lebih familiar dengan nama Curug Cikaso. 

Air terjun ini lumayan tinggi sekitar 30-an meter dengan debit air yang deras plus kolam alami berwarna biru kehijauan yang menawan. 

4. Curug Awang

Curug Awang Sukabumi

Curug Awang berlokasi di Kecamatan Ciletuh Sukabumi. Tempat ini menyuguhkan wisata alam yang masih alami dan asri. 

Curug Awang mempunyai ketinggian sekitar 40 meter dengan bentuk melebar sepanjang 60 meter. Di musim kemarau air terjun hanya mengalir di pojokan tebing dengan posisi yang memang lebih rendah. Tapi saat musim hujan, sepanjang tebing tersebut bisa dialiri air sehingga menampilkan penampakan layaknya air terjun Niagara. 

Air terjun ini memiliki pemandangan yang indah dan suasana yang segar. Curug Awang adalah salah satu curug dari aliran sungai Ciletuh. Selain Curug ini ada 2 curug lain yaitu curug Puncak Manik dan curug Tengah yang berada satu aliran sungai Ciletuh.

5. Curug Cimarinjung

Curug Cimarinjung Sukabumi
 
Curug Cimarinjung memiliki ketinggian sekitar 45 meter ini berada tidak jauh dari pantai Cimarinjung di teluk Ciletuh. Berada di Desa Ciemas, beberapa kilometer dari pesisir Pantai Palangpang. Ketika masuk ke kawasan Desa Ciemas, Curug Cimarinjung sudah bisa kamu lihat. 

Suasana pedesaan dan ladang persawahan yang alami akan segera menyambutmu di sepanjang perjalanan. Untuk mencapai titik lokasi kamu harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak selama 30 menit. 

Curug setinggi 45 meter ini akan menerjunkan debit air yang berlimpah yang mengubah pemandangan sekitar menjadi begitu mewah. Tebing cadas dan bebatuan di sekitar curug ini mengingatkan kita akan dunia Jurrasic Park yang dihuni hewan dinosaurus. 

6. Curug Cigangsa

Curug Cigangsa Sukabumi

Curug Cigangsa berlokasi Dusun Batusuhunan Desa Surade Kec Surade Sukabumi. Tempat ini berjarak sekiatar 110 Km dari pusat kota sukabumi. Untuk mengunjungi curug tersebut harus menggunakan prahu. 

Curug Cigangsa lebih akrab disapa Curug Luhur oleh warga sekitar. Curug ini memiliki tiga tingkat dan terbentuk akibat gempa yang mengakibatkan longsor. Memiliki debit air yang kecil, karena di bagian hulunya dibendung untuk irigasi. Yang menarik dari tempat ini adalah kamu bisa melihat dinding batunya yang berwarna kehitaman dan sebuah batu bernama Batu Masigit, atau Batu Masjid. 

Di sini kamu bisa menikmati keindahan curug dari dua arah, yakni dari atas dan dari bawah. Pada masa penjajahan lokasi di sekitar curug ini sering digunakan untuk tempat bersembunyi para pejuang karena lokasinya yang tersembunyi dan dianggap aman. 

7. Curug Sentral Kabandungan

Curug Sentral Kabandungan Sukabumi
Curug Sentral Kabandungan berlokasi di Desa Jayanegara, Kecamatan Kebandungan Sukabumi. Untuk menuju ke curug tersebut juga di perlukan sedikit perjuangan dengan melewati lembah dan perkebunan teh dengan berjalan kaki. 

Perjalanan menuju air terjun tersebut pun mempunyai pemandangan yang indah yang dapat menghilangkan rasa lelah anda dalam berjalan. 

8. Curug Sodong

Curug Sodong Sukabumi

Curug Sodong atau Curug Panganten (Air Terjun Pengantin) ini terletak di Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi. Aksesnya terbilang baik dengan jalan yang sudah beraspal. 

Saat mengunjungi tempat ini kamu akan disuguhkan pemandangan sawah yang masih sangat asri. Karena airnya yang bersih, Curug Sondong sering dijadikan lokasi untuk melakukan aktivitas kemah. Yang unik dari Curug Sodong adalah namanya yang mamiliki banyak alias atau nama lain. 

Beberapa diantaranya adalah Curug Cikanteh alias Curug Kembar alias Curug Penganten. Kolam di bawah air terjun ini sangat menggoda untuk digunakan mandi, tapi kalian harus tetap berhati-hati. Kontur tanah di dalam kolam tidak rata yang membuatnya cukup berbahaya jika tidak mahir betul berenang. 

9. Curug Bibijilan

Curug Bibijilan Sukabumi

Curug Bibijilan berlokasi di Kampung lebak nangka Kecamatan Nyalindung Kabupaten sukabumi. Curug ini masih terlihat alami dan mempunyai air yang jernih. untuk menuju ke lokasi ini anda harus melewati jalan setapak dengan berjalan kaki. 

Air Terjun Bibijilan berada di kawasan wisata Buni Ayu dan memiliki ketinggian sekitar 100 m dengan airnya yang dingin dan sejuk berwarna hijau tosca meluncur dari bebatuan kapur.  Air terjun ini bertingkat-tingkat dan setiap tingkatannya dapat didaki hingga puncaknya. 

Jika musim hujan tiba, Curug Bibijilan tidak diperbolehkan untuk dikunjungi karena debit airnya yang tinggi dan cukup deras. Curug ini juga sering digunakan sebagai arena panjat tebing dan flying fox.

10. Curug Gentong

Curug Gentong Sukabumi

Curug Gentong atau air terjun yang memiliki nama lain Curug Tilu Waluran alias Curug Susun terletak di Kampung Cibalok, kecamatan Waluran, kabupaten Sukabumi. 

Di sini traveler akan dihibur oleh air terjun tingkat tiga yang cantik. Tiap tingkat Curug Gentong mempunyai nama yang berbeda-beda lho. 

Mulai dari yang paling atas bernama Curug Gentong, Curug Kerut, dan Curug Goong. Meski lokasi curug ini berada di dekat jalan raya tapi belum banyak traveler yang berkunjung ke sana.

11. Curug Cirajeg

Curug Cirajeg Sukabumi
 
Curug Cirajeg terbilang asing bagi wisatawan luar Jawa Barat, bahkan Sukabumi sendiri. Letaknya yang berada di tengah-tengah sawah membuat Curug Cirajeg terbilang unik dan mengesankan. 

Untuk mencapainya, kamu akan membutuhkan waktu tempuh selama 2 jam dari Kota Sukabumi. Yang harus kamu perhatikan adalah: cek kondisi fisikmu sebelum ke tempat ini. 

Letaknya yang cukup tersembunyi bisa menguras tenagamu untuk melalui jalan-jalan setapak yang membingungkan. Tapi tenang saja, sepanjang perjalanan ke tempat ini kamu akan disuguhkan pemandangan alam khas Jawa Barat yang sungguh puitis.