Info Seputar Sukabumi

Tampilkan postingan dengan label Kota Sukabumi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kota Sukabumi. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 April 2018

Reugreug Pageuh Repeh Rapih

Reugreug Pageuh Repeh Rapih

Nama yang amat bersahaja tapi berfaedah berisi, “Reugreug Pageuh Repeh Rapih”. tentulah sekarakter suarahati hasil konsentrasi berisi. sekat ini wajib jadi gili-gili yang reugreug pageuh yang menetas situasi yang repeh rapih. berat tulanghitam aku, “Reugreug Pageuh” memanglah landasan, dan “Repeh Rapih” merupakan hasil. 

Namun  tak urung  muncul juga pertanyaan. Pertama,  apakah  “pageuh”  yang menjadikan “reugreug”  atau sebaliknya.  Karena “reugeug”  bermakna tenang, aman, nyaman,  merasa happy dan berbagai gambaran emosi lain yang senada dengan itu. Sementara  “pageuh” artinya kuat dan mengakar. Mungkinkan sesuatu itu dirasakan “reugreug”  kalau tidak “pageuh”.  Secara logika mestinya semboyannya “pageuh reugreug”  meskipun secara rasa kebahasaan,  “reugreug pageuh” terasa lebih puitis dan lebih enak diucapkan. 
Pengertian “pageuh”  itu bermanka ikatan, yaitu ikatan yang berwujud kesadaran keagamaan yang demikian intens dalam kehidupan warga kota Sukabumi. Dan saya masih ingat betul, kota ini dikenal sebagai kota santri.  
Lahirnya ulama pejuang seperti KH Ahmad Sanusi, KH Dadun Abdul Qahhar (meski selanjutnya beliau pindah ke Cibadak) dan  Mr. Syamsudin, tidak bisa dilepaskan dari kehadiran pesantren Syamsul-Ulum  Gunungpuyuh yang selama puluhan tahun menjadi pusat pengkaderan para ulama di Jawa Barat.  
Berawal dari pesantren Cantayan, pindah ke Gunungpuyuh, lalu menyebar ke banyak tempat : Ad-Da’wah Cibadak, Ibadurrahman Tegallega, Mifathul-huda Cibatu Cisaat, Gunung Handeuleum Bogor, dan pusat-pusat pengkaderan lainnya. 
Dan kota Sukabumi waktu itu menjadi “pusat”  berkumpulnya para ulama pergerakan. Sebutlah misalnya nama-nama lain : KH Noor Ali Bekasi, KH Soleh Iskandar Bogor, KH Acun Manshur dan KH Abdul Malik Tegallega, KH Dachlan Cipetir (pendiri Muhamadiyah Sukabumi), KH Masthuro (pendiri pesantren Almasthuriyah Tipar Cisaat), juga KH Mahfuz (pesantren Al-Mahfudziyah Ciaul), dan dari tentara, misalnya brigjen Sarbini dan kol. 
Kawilarang (divisi Siliwangi) merupakan figur  pejuang yang menjadikan kota Sukabumi sebagai basis perlawanannya terhadap baik kolonial Belanda maupun Jepang. Sampai kemudian muncul waktu itu semacam adagium, “jika ingin menguasai Jawa Barat, kuasailah Sukabumi” menunjukkan betapa penting dan strategisnya kota Sukabumi. 
Dengan demikian, jati diri kota Sukabumi adalah nilai-nilai Islam, dan kesadaran serta semangat keagamaan. Menjauhkan Sukabumi dari nilai-nilai Islam berarti seperti mengangkat ikan dari air.   
Sukabumi hanya akan menjadi KOTA BAROKAH jika kesadaran dan nilai-nilai Islam teraktualisasikan dalam kehidupan warganya, para birokrat dan pemimpin daerahnya,  dan dalam manajemen pemerintahannya. 
Karena kesadaran akan Islam itulah, semua warga menjadi “reugreug”. Ketenangan dan sikap keberagamaan warga menjadi dasar terwujudnya hidup yang berdampingan secara damai. Tak ada pertentangan agama. Meski jumlah gereja di kota ini banyak,  hubungan Muslim-Kristen berjalan sangat baik. Bahkan salah seorang tokoh Protestan, dr. Winata, memiliki hubungan yang amat baik dengan para kiyai. Dia merupakan salah seorang teman KH Ahmad Sanusi dan ayah saya serta ikut berjuang pada masa kemerdekaan dengan memasok senjata.  
“Reugreug”  menjadi sebuah penggambaran dari sikap  warga Sukabumi yang merasakan kenyamanan dan ketenteraman karena mereka mengamalkan nilai-nilai agama. Semua orang yang hidup di kota Sukabumi akan merasa tidak lagi “reugreug”  jika budaya yang berkembang dalam pergaulan antar mereka tidak lagi bertumpu pada budaya yang agamis.
Setelah ikatan agama telah mengakar demikian kuat (pageuh), masyarakat pun menjadi tenteram dan nyaman (reugreug), dan kemudian bermuaralah pada sikap Repeh-rapih. Saling menghargai, menghormati serta saling dukung dan saling dorong dalam kebaikan dalam bingkai amar ma’ruf nahi munkar yang dilakukan secara santun dan penuh kearifan. Repeh bakal terwujud karena rapih. Dan rapih hanya akan bias diciptakan karena kesadaran agama yang intens.

Kamis, 22 Maret 2018

3 Danau Di Sukabumi Jawa Barat

Danau Situ Gunung Sukabumi


Sukabumi Jawa Barat selain memiliki pesona keindahan alam dengan 12 Pantai dan 11 Air terjun, juga ada 3 Danau yang melengkapi daa tarik sukabumi untuk wisatawan domestik bahkan turis asing.

Berikut ini adalah 3 Danau Di Sukabumi Jawa Barat:

1. Danau Batu Bacan

Danau Batu bacan Sukabumi

Danau Batu bacan merupakan kawasan wisata danau yang berlokasi di Ds. Bojongharjo, Kec. Cikembar sukabumi. danau ini mempunyai karakteristik air yang berwarna hijau. 

Danau ini dahulunya merupakan pertambangan batu yang dikelola warga sekitar. namun seiring berjlanya waktu tiba tiba air muncul dan menggenangi area pertambangan hingga terbnetuk  menajdi danau yang indah sperti sekarang ini. 

Uniknya danau Bacan tersebut tidak memiliki air resapan yang keluar dari bebetauan yang ada di sekellingnya, Air yang berada di danau tersebut adalah air hujan yang tertampung dari tahun-tahun sebelumnya.

2. Danau Sukarame

Danau Sukarame Sukabumi

Danau Sukarame atau disebut juga Situ Sukarame adalah danau yang terletak di kaki Gunung Salak. Panorama alam yang ditawarkan di kawasan wisata ini sangat indah, hamparan kebun teh yang mengelilingi menambah pesona daya tarik pemandangan sekitar. 

Udara di sini pun juga sangat sejuk dan segar. Memancing dan berselancar adalah kegiatan alam yang menarik untuk dilakukan di situ ini. Situ Sukarame merupakan destinasi favorit yang banyak dikunjungi orang. 

Disini anda akan ditawarkan sebuah pemandangan indah di kawasan wisata dengan hamparan kebun teh yang mengelilinginya. Udara di sini juga sangat sejuk dan segar. Kegiatan alam yang menarik dilakukan antara lain memancing dan berselancar menggunakan tali melintasi situ. 

Tempat wisata ini biasa dijadikan sebagai tempat perkemahan bagi kominitas pramuka. Pemandangan yang hijau serta di kelilingi oleh kebun teh yang sangat luas.

3. Danau Situ  Gunung

Situ Gunung Sukabumi

Situ Gunung adalah sebuah danau yang berlokasi di Kecamatan Kadu Dampit, Sukabumi. Berada di kaki Gunung Pangrango, sektiar 16 KM dari Kota Sukabumi, Situ Gunung adalah sebuah danau yang sangat indah dan hijau. 

Danau ini adalah salah satu lokasi favorit para fotografer Indonesia, terbukti dengan banyaknya jumlah gambar Danau Situ Gunung yang beredar. Seperti layaknya sebuah wisata danau, di sini anda dapat bermain perahu, berpiknik, berkemah, memancing, dan lain-lain. 

Untuk yang baru pertama kali ke Situ Gunung, saya sarankan jangan pada saat malam hari karena jalan ke Situ Gunung masih minim penerangan, selain itu sinyal handphone juga kurang bagus di daerah ini.
 

11 Curug Di Sukabumi Jawa Barat

Air Terjun Cikaso Sukabumi


Sukabumi Jawa Barat kaya akan pesona air terjunnya. Curug adalah istilah bahasa sundanya dari Air Terjun. Ada sebelas air terjun (Curug) di Sukabumi yang cocok untuk tujuan wisata domestik.

Berikut ini adalah 11 Curug Di Sukabumi Jawa Barat:


1. Curug Sawer

Curug Sawer Sukabumi

Curug Sawer berada di kawasan wisata situ gunung Kec kadudampit Sukabumi. Di sekitaran air terjun tersebut juga terdapat berbagai macam vila yang bisa anda sewa. Curug ini memiliki ketinggian sampai 25-30 meter. 

Curug Sawer masuk dalam pengelolaan hutan termasuk juga RPH Cipaku BKPH Gede Barat KPH Sukabumi. Di sini juga ditemui curug yang lain, yaitu Curug Cimanaracun, dimana Curug Cimanaracun adalah sumber dari danau Situ Gunung. 

Curug ini berjarak lebih kurang sekitar 200 meter dari Wisma Situgunung. Curug ini masuk dalam wilayah pengelolaan hutan termasuk RPH Cipaku BKPH Gede Barat KPH Sukabumi. 

Air terjun Curug Sawer merupakan aliran air dari sumber air Gunung Gede-Pangrango. Selain Curug Sawer, terdapat pula curug lain yang berada di atas nya seperti Curug Kembar, Curug Willy dan Curug Bengkok. 

2. Curug Cibeureum


Curug Cibeureum berada di kawasan taman nasional gede pangrango kabupaten sukabumi. Untuk menuju lokasi tersebut anda harus melewati area taman nasional gede dan jarak anatar air terjun dengan pintu masuk taman nasional adalah sekitar 500 meter. 

Curug Cibeureum ini memiliki ketinggian terjunan air 54 meter dan berada di kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP), dengan ketinggian sekitar 1050 meter dari permukaan laut (dpl). 

3. Curug Cikaso

Curug Cikaso Sukabumi

Curug Cikaso ini berlokasi di Kampung Cinti Ds Cibitung Kec Cibitung sukabumi. Untuk menuju ke lokasi ini anda harus melewati lembah yang agak jauh. 

Curug Cikaso berada di Desa Cibitung, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi. Curug ini berada tidak jauh dari kawasan wisata ujung genteng, jadi setelah anda menikmati pantai ujung genteng anda bisa menuju ke Curug Cikaso maupun sebaliknya. 

Dari lokasi parkir anda bisa menuju ke Curug Cikaso dengan dua pilihan yaitu menggunakan perahu atau dengan berjalan kaki. Air curug sendiri dipasok dari aliran sungai Cikaso sehingga warga lebih familiar dengan nama Curug Cikaso. 

Air terjun ini lumayan tinggi sekitar 30-an meter dengan debit air yang deras plus kolam alami berwarna biru kehijauan yang menawan. 

4. Curug Awang

Curug Awang Sukabumi

Curug Awang berlokasi di Kecamatan Ciletuh Sukabumi. Tempat ini menyuguhkan wisata alam yang masih alami dan asri. 

Curug Awang mempunyai ketinggian sekitar 40 meter dengan bentuk melebar sepanjang 60 meter. Di musim kemarau air terjun hanya mengalir di pojokan tebing dengan posisi yang memang lebih rendah. Tapi saat musim hujan, sepanjang tebing tersebut bisa dialiri air sehingga menampilkan penampakan layaknya air terjun Niagara. 

Air terjun ini memiliki pemandangan yang indah dan suasana yang segar. Curug Awang adalah salah satu curug dari aliran sungai Ciletuh. Selain Curug ini ada 2 curug lain yaitu curug Puncak Manik dan curug Tengah yang berada satu aliran sungai Ciletuh.

5. Curug Cimarinjung

Curug Cimarinjung Sukabumi
 
Curug Cimarinjung memiliki ketinggian sekitar 45 meter ini berada tidak jauh dari pantai Cimarinjung di teluk Ciletuh. Berada di Desa Ciemas, beberapa kilometer dari pesisir Pantai Palangpang. Ketika masuk ke kawasan Desa Ciemas, Curug Cimarinjung sudah bisa kamu lihat. 

Suasana pedesaan dan ladang persawahan yang alami akan segera menyambutmu di sepanjang perjalanan. Untuk mencapai titik lokasi kamu harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak selama 30 menit. 

Curug setinggi 45 meter ini akan menerjunkan debit air yang berlimpah yang mengubah pemandangan sekitar menjadi begitu mewah. Tebing cadas dan bebatuan di sekitar curug ini mengingatkan kita akan dunia Jurrasic Park yang dihuni hewan dinosaurus. 

6. Curug Cigangsa

Curug Cigangsa Sukabumi

Curug Cigangsa berlokasi Dusun Batusuhunan Desa Surade Kec Surade Sukabumi. Tempat ini berjarak sekiatar 110 Km dari pusat kota sukabumi. Untuk mengunjungi curug tersebut harus menggunakan prahu. 

Curug Cigangsa lebih akrab disapa Curug Luhur oleh warga sekitar. Curug ini memiliki tiga tingkat dan terbentuk akibat gempa yang mengakibatkan longsor. Memiliki debit air yang kecil, karena di bagian hulunya dibendung untuk irigasi. Yang menarik dari tempat ini adalah kamu bisa melihat dinding batunya yang berwarna kehitaman dan sebuah batu bernama Batu Masigit, atau Batu Masjid. 

Di sini kamu bisa menikmati keindahan curug dari dua arah, yakni dari atas dan dari bawah. Pada masa penjajahan lokasi di sekitar curug ini sering digunakan untuk tempat bersembunyi para pejuang karena lokasinya yang tersembunyi dan dianggap aman. 

7. Curug Sentral Kabandungan

Curug Sentral Kabandungan Sukabumi
Curug Sentral Kabandungan berlokasi di Desa Jayanegara, Kecamatan Kebandungan Sukabumi. Untuk menuju ke curug tersebut juga di perlukan sedikit perjuangan dengan melewati lembah dan perkebunan teh dengan berjalan kaki. 

Perjalanan menuju air terjun tersebut pun mempunyai pemandangan yang indah yang dapat menghilangkan rasa lelah anda dalam berjalan. 

8. Curug Sodong

Curug Sodong Sukabumi

Curug Sodong atau Curug Panganten (Air Terjun Pengantin) ini terletak di Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi. Aksesnya terbilang baik dengan jalan yang sudah beraspal. 

Saat mengunjungi tempat ini kamu akan disuguhkan pemandangan sawah yang masih sangat asri. Karena airnya yang bersih, Curug Sondong sering dijadikan lokasi untuk melakukan aktivitas kemah. Yang unik dari Curug Sodong adalah namanya yang mamiliki banyak alias atau nama lain. 

Beberapa diantaranya adalah Curug Cikanteh alias Curug Kembar alias Curug Penganten. Kolam di bawah air terjun ini sangat menggoda untuk digunakan mandi, tapi kalian harus tetap berhati-hati. Kontur tanah di dalam kolam tidak rata yang membuatnya cukup berbahaya jika tidak mahir betul berenang. 

9. Curug Bibijilan

Curug Bibijilan Sukabumi

Curug Bibijilan berlokasi di Kampung lebak nangka Kecamatan Nyalindung Kabupaten sukabumi. Curug ini masih terlihat alami dan mempunyai air yang jernih. untuk menuju ke lokasi ini anda harus melewati jalan setapak dengan berjalan kaki. 

Air Terjun Bibijilan berada di kawasan wisata Buni Ayu dan memiliki ketinggian sekitar 100 m dengan airnya yang dingin dan sejuk berwarna hijau tosca meluncur dari bebatuan kapur.  Air terjun ini bertingkat-tingkat dan setiap tingkatannya dapat didaki hingga puncaknya. 

Jika musim hujan tiba, Curug Bibijilan tidak diperbolehkan untuk dikunjungi karena debit airnya yang tinggi dan cukup deras. Curug ini juga sering digunakan sebagai arena panjat tebing dan flying fox.

10. Curug Gentong

Curug Gentong Sukabumi

Curug Gentong atau air terjun yang memiliki nama lain Curug Tilu Waluran alias Curug Susun terletak di Kampung Cibalok, kecamatan Waluran, kabupaten Sukabumi. 

Di sini traveler akan dihibur oleh air terjun tingkat tiga yang cantik. Tiap tingkat Curug Gentong mempunyai nama yang berbeda-beda lho. 

Mulai dari yang paling atas bernama Curug Gentong, Curug Kerut, dan Curug Goong. Meski lokasi curug ini berada di dekat jalan raya tapi belum banyak traveler yang berkunjung ke sana.

11. Curug Cirajeg

Curug Cirajeg Sukabumi
 
Curug Cirajeg terbilang asing bagi wisatawan luar Jawa Barat, bahkan Sukabumi sendiri. Letaknya yang berada di tengah-tengah sawah membuat Curug Cirajeg terbilang unik dan mengesankan. 

Untuk mencapainya, kamu akan membutuhkan waktu tempuh selama 2 jam dari Kota Sukabumi. Yang harus kamu perhatikan adalah: cek kondisi fisikmu sebelum ke tempat ini. 

Letaknya yang cukup tersembunyi bisa menguras tenagamu untuk melalui jalan-jalan setapak yang membingungkan. Tapi tenang saja, sepanjang perjalanan ke tempat ini kamu akan disuguhkan pemandangan alam khas Jawa Barat yang sungguh puitis.
 

Sabtu, 10 Maret 2018

Tentang Sukabumi (Kota dan Kabupaten)


Tentang Sukabumi (Kota dan Kabupaten)
Gedung Bioskop Capitol Sukabumi

Sejarah Kota dan Kabupaten Sukabumi bermula dari pembukaan lahan perkebunan kopi di wilayah Priangan barat di masa pemerintahan kolonial VOC. Karena besarnya permintaan akan komoditas kopi di Eropa, pada tahun 1709 Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck mulai membuka perkebunan kopi di daerah Tjibalagoeng (Bogor), Tjiandjoer, Djogdjogan, Pondok Kopo, dan Goenoeng Goeroeh. Perkebunan kopi di kelima daerah ini lalu mengalami perluasan dan peningkatan di era pemerintahan Gubernur Jenderal Hendrick Zwaardecroon (1718-1725), dimana Bupati Tjiandjoer saat itu Wira Tanoe III mendapatkan perluasan wilayah dari Zwaardecroon dengan syarat adanya pembukaan ladang-ladang kopi baru di wilayah tersebut.

Seiring waktu, kawasan sekitar perkebunan kopi di Goenoeng Goeroeh berkembang menjadi beberapa pemukiman kecil, salah-satunya adalah kampung Tjikole. Pada tahun 1776, Bupati Tjiandjoer Wiratanu VI membentuk Kepatihan Tjikole yang merupakan pendahulu dari Kabupaten Sukabumi saat ini. Kepatihan Tjikole terdiri dari enam distrik yaitu Distrik Goenoeng Parang, Tjimahi, Tjiheoelang, Tjitjoeroeg, Djampang Koelon, dan Djampang Tengah. Pusat kepatihannya berada di Tjikole, dikarenakan Tjikole dipandang memiliki lokasi yang sangat strategis untuk komunikasi antara Batavia dan Tjiandjoer yang saat itu merupakan ibukota dari Karesidenan Priangan.

Nama "Soekaboemi" pertama kali digunakan di tanggal 13 Januari 1815 dalam catatan arsip Hindia Belanda oleh Andries Christoffel Johannes de Wilde, seorang ahli bedah dan administratur perkebunan kopi dan teh berkebangsaan Belanda (Preanger Planter) yang membuka lahan perkebunan di Kepatihan Tjikole. Dalam laporan surveynya, De Wilde mencantumkan nama Soeka Boemi sebagai tempat ia menginap di Kepatihan Tjikole. De Wilde lalu mengirim surat kepada temannya Nicolaus Engelhard yang menjabat sebagai administrator Hindia Belanda, dimana ia meminta Engelhard untuk mengajukan penggantian nama Kepatihan Tjikole menjadi Kepatihan Soekaboemi kepada Thomas Stamford Raffles, Gubernur Hindia Belanda saat itu.

Terdapat dua pendapat mengenai asal nama Sukabumi yang digunakan oleh De Wilde. Pendapat pertama mengatakan bahwa nama Sukabumi berasal dari kata Bahasa Sunda, yaitu Suka dan Bumen (Menetap) yang bermakna suatu kawasan yang disukai untuk menetap, dikarenakan iklim Sukabumi yang sejuk. Pendapat kedua mengatakan bahwa nama Sukabumi berasal dari kata Bahasa Sanskerta, yaitu Suka (kesenangan, kebahagiaan, kesukaan) dan Bhumi (Bumi, Tanah) sehingga nama Sukabumi memiliki arti "Bumi yang disenangi" atau "Bumi yang disukai".

De Wilde sendiri lalu menjual kembali tanahnya di Soekaboemi kepada pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1823. Lokasi strategis Soekaboemi diantara Batavia dan Bandoeng dan hasil buminya yang banyak menyumbang pemasukan bagi pemerintah Hindia Belanda merupakan faktor dibangunnya jalur kereta dari Boeitenzorg ke Soekaboemi yang terhubung pada tahun 1882. Jalur yang dibangun oleh perusahaan Staatspoorwagen ini menjadi jantung distribusi dalam pengangkutan hasil bumi seperti teh, kopi, dan kina ke pelabuhan Tandjoeng Priok di Batavia.

Soekaboemi merupakan tempat percetakan surat kabar keturunan Tionghoa pertama di Indonesia yaitu Li Po pada tahun 1901 yang berbahasa Melayu-Tionghoa.

Status Soekaboemi sebagai kota sendiri dimulai pada 1 April 1914, dimana pemerintahan Hindia Belanda meresmikan Soekaboemi sebagai Gemeente (Kotapraja) dikarenakan populasi bangsa Eropa yang berdomisili cukup signifikan. Tanggal 1 April dipilih untuk memperingati kemenangan kelompok Geuzen (leluhur bangsa Belanda) dalam merebut kota Brielle dari tangan Spanyol dalam Perang Delapan Puluh Tahun yang terjadi pada 1 April 1572. Pemerintahan kota Soekaboemi sendiri baru terbentuk di pada 1 Mei 1926, dengan burgemeester (wali kota) pertamanya George François Rambonnet

Selama masa terbentuknya Kotapraja sampai ke pendudukan Jepang, terjadi pembangunan Soekaboemi Treinstation (Stasiun Sukabumi), Moskee te Soekaboemi (Masjid Agung), Pinkstergemeente (Gereja Pantekosta), Rooms-katholieke kerk (Gereja Katolik Santo Yoseph), Bethelkerk (Gereja Bethel), Bataksche kerk (HKBP Pasundan), Waterkrachtwerk Oebroeg (PLTA Ubrug), Onderstation Lemboersitoe (Gardu induk Lembursitu), dan Politieschool (Sekolah Pembentukan Perwira Polri).

Menjelang akhir kekuasaan Hindia Belanda, Sukabumi menjadi tempat tujuan pengasingan bagi beberapa tokoh nasional Indonesia seperti Mohammad Hatta, Sutan Syahrir dan Tjipto Mangoenkoesoemo. Pernah juga diadakan pertemuan diplomatik antara Ichizo Kobayashi sebagai perwakilan dari Jepang dengan Hubertus Johannes van Mook pada Oktober 1940 yang membahas mengenai kerjasama dagang antara Jepang dan Hindia Belanda.

Di pertengahan masa Perang Dunia Kedua, Kekaisaran Jepang melancarkan serangan ke Hindia Belanda pada 8 Desember 1941, dimana Soekaboemi jatuh ke tangan Jepang di tanggal 7 Maret 1942. Di masa pendudukan Jepang, Soekaboemi menjadi tempat pertemuan Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir dengan perwakilan Jepang untuk membahas mengenai masa depan Hindia Belanda, namun keduanya malah mendapatkan status sebagai tahanan kota. Soekaboemi juga menjadi salah-satu tempat penahanan tawanan perang dari Amerika Serikat dan Australia di Indonesia.

Kota Sukabumi terletak pada bagian selatan tengah Jawa Barat serta bagian barat daya dari wilayah Priangan pada koordinat 106° 45’ 50’’ Bujur Timur dan 106° 45’ 10’’ Bujur Timur, 6° 49’ 29’’ Lintang Selatan dan 6° 50’ 44’’ Lintang Selatan, terletak di kaki Gunung Gede dan Gunung Pangrango yang ketinggiannya 584 m di atas permukaan laut, dengan suhu maksimum 29 °C.

Kota ini terletak 120 km sebelah selatan Jakarta dan 96 km sebelah barat Bandung, dan wilayahnya berada di sekitar timur laut wilayah Kabupaten Sukabumi serta secara administratif wilayah kota ini seluruhnya berbatasan dengan wilayah Kabupaten Sukabumi. Kota Sukabumi secara budaya merupakan bagian dari wilayah Priangan Barat.

Wilayah Kota Sukabumi berdasarkan PP No. 3 Tahun 1995 adalah 48,423 km² yang terbagi dalam 5 kecamatan dan 33 kelurahan. Selanjutnya berdasarkan Perda Nomor 15 Tahun 2000 tanggal 27 September 2000, wilayah administrasi Kota Sukabumi mengalami pemekaran menjadi 7 kecamatan dengan 33 kelurahan. Kecamatan Baros dimekarkan menjadi 3 kecamatan yaitu Kecamatan Lembursitu, Kecamatan Baros, dan Kecamatan Cibeureum. Pada tahun 2010 Kota Sukabumi terdiri dari 7 kecamatan, meliputi 33 kelurahan, 350 RW, dan 1.521 RT. Kecamatan di Kota Sukabumi adalah:
Jumlah Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Kota Sukabumi pada Tahun 2010 5.733 orang yang terdiri dari Golongan I 213 orang, Golongan II 1.630 orang, Golongan III 2.209 orang, dan Golongan IV 1.681 orang. Berdasarkan tingkat pendidikan S3 3 orang, S2 205 orang, S1 2.070 Orang, DIV 21 Orang, DIII/DII/DI 1.496 orang, SMA 1.584 orang, SMP 183 orang, dan SD 171 orang.

Jumlah Keputusan DPRD Kota Sukabumi pada tahun 2009/2010, berdasarkan surat Keputusan Pimpinan DPRD sebanyak 9, sedangkan Surat Keputusan Dewan (DPRD) sebanyak 23.
  
Arti Lambang Kota Sukabumi
  • Keterangan: Dasar hukum dari penggunaan lambang Kota Sukabumi adalah Peraturan Daerah Kotamadya Sukabumi no. 12 tahun 1993 tentang lambang daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Sukabumi.
  • Penerapan: 1993
  • Perisai: Perisai dengan batas dua garis merah dan satu garis putih melambangkan ketangguhan fisik dan mental. Warna hijau melambangkan kesuburan. Bintang segilima di atas melambangkan kelima sila Pancasila yang merupakan dasar negara Republik Indonesia. Senjata Kujang sebagai senjata tradisional Sunda di tengah melambangkan keberanian. Setangkai Padi dan Teh di kanan dan kiri melambangkan Ketentraman dan Perdamaian. Pita merah putih di bawah melambangkan kebangsaan Indonesia.
  • Semboyan: Reugreug Pageuh Repeh Rapih
    (Bahasa Sunda untuk Teguh, Kukuh, Damai, Bersatu) 

Kependudukan
Perkembangan penduduk di Kota Sukabumi selama periode 1998-2002 teus meningkat, dengan laju pertumbuhan penduduk rata-rata 1,75 %. 
Tahun Jumlah penduduk
2015 Green Arrow Up.svg 318.117
2010 Green Arrow Up.svg 298.681
2009 Green Arrow Up.svg 287.856
2008 Green Arrow Up.svg
2007
2006 Green Arrow Up.svg
2005 Green Arrow Up.svg
2004 Green Arrow Up.svg
2003 Green Arrow Up.svg 278.418
2002 Green Arrow Up.svg 259.045
2001 Green Arrow Up.svg 257.097
2000 Green Arrow Up.svg 252.420
1999 Green Arrow Up.svg 242.976
1998 241.396

Ketenagakerjaan
Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Penanggulangan Bencana Kota Sukabumi tercatat bahwa jumlah pencari kerja yang terdaftar pada tahun 2010 mencapai 8.699 orang, yang terdiri dari 4.129 pencari kerja laki-laki dan 4.570 perempuan. Sedangkan pencari kerja yang berhasil ditempatkan sebanyak 2.014 orang. Jumlah Pencari Kerja yang telah ditempatkan menurut tingkat pendidikan di Kota Sukabumi tahun 2010 meliputi lulusan SMP 510 orang, lulusan SMA 967 orang, lulusan jenjang Diploma 155 orang, dan Sarjana 123 orang.

Perekonomian
Jika dilihat dari kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kota Sukabumi masih relatif kecil yaitu berada di bawah 20 persen setiap tahunnya.

Berdasarkan data dari Dinas Perindustrian, Perdagangan Koperasi dan Penanaman Modal Kota Sukabumi pada tahun 2010, diketahui bahwa perusahaan yang memilki SIUP mengalami peningkatan sebesar 7,67 % yaitu dari 4.899 perusahaan pada tahun 2009 menjadi 5.275 perusahaan pada tahun 2010. Dari sebanyak 5.275 perusahaan yang memiliki SIUP tersebut terdiri dari 154 perusahaan besar, 519 perusahaan menengah dan 4.602 perusahaan kecil.

Sedangkan jumlah perusahaan yang mengajukan Permintaan Tanda Daftar Perusahaan pada tahun 2010 mengalami penurunan sebanyak 32,35 % dibanding tahun 2009. Dari sejumlah 366 perusahaan yang mengajukan Tanda Daftar Perusahaan, tercatat sebanyak 50 perusahaan berbentuk badan usaha PT, 8 perusahaan berbentuk Koperasi, 110 perusahaan berbentuk CV, 197 perusahaan berbentuk PO dan ada 1 perusahaan berbentuk BUL.

Kegiatan perhotelan di Kota Sukabumi dapat dilihat dari banyaknya perusahaan akomodasi dan tamu yang menginap. Pada tahun 2010 jumlah perusahaan akomodasi di Kota Sukabumi sebanyak 33 buah yang terdiri dari 598 kamar dan 875 tempat tidur.

Sementara itu banyaknya tamu yang menginap pada tahun 2010 sebanyak 107.679 orang yang terdiri dari wisatawan mancanegara sebanyak 2.794 orang dan wisatawan nusantara sebanyak 104.885 orang. Jumlah tamu yang menginap tersebut 35,54% jika dibandingkan dengan tahun 2009 yang berjumlah 38.275 orang. Jika dilihat per kecamatan, dapat diketahui bahwa tamu yang menginap di hotel, masih didominasi di wilayah Kecamatan Cikole, yaitu mencapai 68.94%. Hal ini dimungkinkan karena wilayah Kecamatan Cikole berada di pusat Kota Sukabumi.

Sedangkan kegiatan pariwisata di Kota Sukabumi relatif masih sangat kecil. Secara keseluruhan hanya tercatat 2 objek wisata, 47 penginapan remaja, 6 kolam renang serta beberapa usaha pariwisata lainnya yang meliputi bilyard, golf, karaoke, dan ketangkasan.

Pendidikan
Di kota ini telah berdiri beberapa perguruan tinggi di antaranya STIE Penguji sebagai perguruan tinggi tertua di Sukabumi, lalu Politeknik Sukabumi, Politeknik BBC, Universitas Muhammadyah Sukabumi (UMMI), Sekolah Tinggi Teknologi Nusa Putra (STT NSP), AMIK CBI, AMIK BSI, STMIK Nusa Mandiri, STMIK PASIM, STIE PASIM, STIKES Sukabumi, STAI Al_Masturiyah, STAI Darusalam, STISIP Widyapuri Mandiri, STISIP Syamsul Ulum, STIE PGRI, STKIP PGRI, STAI Sukabumi, STAI Syamsul 'Ulum, STIBA Arayyah, STH Pasundan juga sekolah lanjutan yang berbasis pendidikan Islam yaitu MA Baiturrahman.

Pada tahun 2010 di Kota Sukabumi terdapat 56 Taman Kanak-Kanak, 123 Sekolah Dasar, 35 SMP, 16 SMA, dan 21 SMK yang meliputi sekolah negeri dan swasta. Sementara itu murid yang tertampung di TK pada tahun 2010/2011 sebanyak 2.648 siswa, murid SD sebanyak 33.785 siswa, murid SMP negeri sebanyak 11.174 siswa, murid SMP swasta sebanyak 3.086 siswa, murid SMA negeri dan swasta sebanyak 7.858 siswa dan sebanyak 10.999 murid SMK negeri dan swasta.
  
Kesehatan
Fasilitas kesehatan di Kota Sukabumi terdiri dari beberapa rumah sakit swasta dan umum serta puskesmas yang tersebar di area kota, seperti Rumah Sakit Umum Daerah R. Syamsudin atau disebut juga Bunut di Jl. Rumah Sakit, Rumah Sakit Islam Assyifa di Jl. Jenderal Sudirman, Kartika Medical Center di Jl. Ahmad Yani, RSIA Ridogalih di Jl. Gudang, RSIA Hermina di Jl. Ciaul, dan juga kompleks Balai Pengobatan Sukabumi di Jl. Bhayangkara dan Jl. Kenari. Selain rumah sakit dan puskesmas, terdapat juga berbagai laboratorium klinik yang melayani pemeriksaan kesehatan, seperti Laboratorium Klinik Vita Medika di Jalan Suryakencana, dan Laboratorium Bina Sehat.

Stasiun radio
  • Galaxy Radio 101.4 FM
  • Radio Airlangga 99.0 FM
  • Radio Elmitra 95.0 FM
  • Radio Fortuna 90.7 FM
  • Radio Kiwari 94.7 FM
  • Radio Megaswara Sukabumi 96.00 FM
  • Radio Menara 105.7 FM
  • Radio NBS 92.3 FM
  • Radio Rama 104.1 FM
  • Radio Salam 97.4 FM
  • Radio Trijaya 103.2 FM
  • RSPD Kota Sukabumi 99.9 FM
Perbankan
  • Bank Mandiri dan BSM
  • Bank Mega
  • BJB dan BJB Syariah
  • BNI
  • BRI dan BRI Syariah
  • Bank NISP
  • Bank Panin
  • Bank Pundi
  • Permata Bank
  
Pusat perbelanjaan dan restoran waralaba
  • Dunkin' Donuts
  • Giant Supermarket
  • KFC
  • Matahari
  • Pizza Hut
  • Ramayana
  • Selamat Toserba
  • Sukabumi Supermall (SSM)
  • Superindo
  • Tiara Toserba
  • McDonald's
  • Yogya Department Store
Kuliner
Beberapa kuliner khas kota Sukabumi di antaranya adalah Nasi uduk ungu, mochi, roti priangan tradisional, bubur ayam sukabumi, bolu pisang, bandros, surabi, dan soto mie.
  
Tokoh
Beberapa tokoh yang berasal dari kota Sukabumi di antaranya Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Memperindag Rahardi Ramelan, Pangkostrad Djaja Suparman, pecatur Herman Suradiradja, Pebulutangkis Berry Anggriawan, Penyanyi Indonesia Desy Ratnasari, Shanty, Purie Andriani (Puri Mahadewi) dan Syahrini, komedian Aom Kusman dan Omesh, pemeran wanita Happy Salma dan Herfiza Novianti, pelawak Yan Asmi dan pencipta lagu anak-anak Ibu Sud. Kelompok musik yang berasal dari Sukabumi diantaranya Vagetoz, dll.

Rujukan
  1. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses tanggal 2013-02-15.
  2. ^ Kota Sukabumi Dalam Angka 2016
  3. ^ Beekman, E. M. (1988). Fugitive Dreams: An Anthology of Dutch Colonial Literature. University of Massachusetts Press. hlm. 90. ISBN 0870235753.
  4. ^ Brommer, Bea (2015). To My Dear Pieternelletje:Grandfather and Granddaughter in VOC Time, 1710-1720. Leiden: Brill. hlm. 19. ISBN 9789004293328.
  5. ^ Danasasmita, Saleh (1983). Sejarah Bogor, Volume 1. Bogor: Pemerintah Daerah Kotamadya DT II Bogor. hlm. 85.
  6. ^ Klaveren, N. A. (1983). The Dutch Colonial System in the East Indies. Springer. hlm. 60. ISBN 9789401768481.
  7. ^ Kumar, Ann (1997). Java and Modern Europe: Ambiguous Encounters. Routledge. hlm. 292. ISBN 1138863149.
  8. ^ Breman, Jan (2014). Keuntungan Kolonial Dari Kerja Paksa: Sistem Priangan Dari Tanam Paksa Kopi di Jawa 1920-1870. Yayasan Obor Indonesia. hlm. 129. ISBN 9789794618745.
  9. ^ Inventaris van de collectie Engelhard 1750-1832
  10. ^ Klaveren, N. A. (1983). The Dutch Colonial System in the East Indies. Springer. hlm. 103. ISBN 9789401768481.
  11. ^ Paulus, Jozias (1989). Encyclopaedie van Nederlandsch-Indië.
  12. ^ Van Diessen, J. R. (1998). Stedenatlas Nederlands-Indië. Asia Maior. hlm. 9. ISBN 9789074861120.
  13. ^ Ligthart, Th (1926). De Indische bodem. Volkslectuur. hlm. 174.
  14. ^ Mook, Hubertus Johannes (1944). The Netherlands Indies and Japan: Battle on Paper, 1940-1941. W. W. Norton, Incorporated.
  15. ^ Spiller, Harry (2009). American POWs in World War II: Twelve Personal Accounts of Captivity by Germany and Japan. McFarland. hlm. 182. ISBN 9780786453733.
  16. ^ De Jong, Louis (2003). The Collapse of a Colonial Society (Verhandelingen Van Het Koninklijk Instituut Voor Taal-, Land- En Volkenkunde). University of Washington Press. hlm. 91. ISBN 9789067182034.
  17. ^ "DAFTAR NAMA ANGGOTA DPRD KOTA SUKABUMI BERDASARKAN DAERAH PEMILIHAN", Situs resmi Tatat Pemerintahan Kota Sukabumi
  18. ^ "Pimpinan DPRD – Portal Kota Sukabumi". portal.sukabumikota.go.id. Diakses tanggal 2017-11-28.
  19. ^ "Komisi DPRD – Portal Kota Sukabumi". portal.sukabumikota.go.id. Diakses tanggal 2017-11-28.
  20. ^ a b http://www.sukabumikota.go.id BAB II Perkembangan Kota Sukabumi
  21. ^ "Badan Pusat Statistik Kota Sukabumi". sukabumikota.bps.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-04-25.
  22. ^ http://www.sukabumikota.go.id BAB IV Program dan kegiatan Strategis
  23. ^ "Nasi uduk ungu dijadikan ikon Kota Sukabumi", Antara
  24. ^ "Kuliner ala Kota Sukabumi", Pikiran Rakyat

Sumber : Wikipedia.Org
Photo : Google.Com