Info Seputar Sukabumi

Tampilkan postingan dengan label Reugreug Pageuh Repeh Rapih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Reugreug Pageuh Repeh Rapih. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 April 2018

Reugreug Pageuh Repeh Rapih

Reugreug Pageuh Repeh Rapih

Nama yang amat bersahaja tapi berfaedah berisi, “Reugreug Pageuh Repeh Rapih”. tentulah sekarakter suarahati hasil konsentrasi berisi. sekat ini wajib jadi gili-gili yang reugreug pageuh yang menetas situasi yang repeh rapih. berat tulanghitam aku, “Reugreug Pageuh” memanglah landasan, dan “Repeh Rapih” merupakan hasil. 

Namun  tak urung  muncul juga pertanyaan. Pertama,  apakah  “pageuh”  yang menjadikan “reugreug”  atau sebaliknya.  Karena “reugeug”  bermakna tenang, aman, nyaman,  merasa happy dan berbagai gambaran emosi lain yang senada dengan itu. Sementara  “pageuh” artinya kuat dan mengakar. Mungkinkan sesuatu itu dirasakan “reugreug”  kalau tidak “pageuh”.  Secara logika mestinya semboyannya “pageuh reugreug”  meskipun secara rasa kebahasaan,  “reugreug pageuh” terasa lebih puitis dan lebih enak diucapkan. 
Pengertian “pageuh”  itu bermanka ikatan, yaitu ikatan yang berwujud kesadaran keagamaan yang demikian intens dalam kehidupan warga kota Sukabumi. Dan saya masih ingat betul, kota ini dikenal sebagai kota santri.  
Lahirnya ulama pejuang seperti KH Ahmad Sanusi, KH Dadun Abdul Qahhar (meski selanjutnya beliau pindah ke Cibadak) dan  Mr. Syamsudin, tidak bisa dilepaskan dari kehadiran pesantren Syamsul-Ulum  Gunungpuyuh yang selama puluhan tahun menjadi pusat pengkaderan para ulama di Jawa Barat.  
Berawal dari pesantren Cantayan, pindah ke Gunungpuyuh, lalu menyebar ke banyak tempat : Ad-Da’wah Cibadak, Ibadurrahman Tegallega, Mifathul-huda Cibatu Cisaat, Gunung Handeuleum Bogor, dan pusat-pusat pengkaderan lainnya. 
Dan kota Sukabumi waktu itu menjadi “pusat”  berkumpulnya para ulama pergerakan. Sebutlah misalnya nama-nama lain : KH Noor Ali Bekasi, KH Soleh Iskandar Bogor, KH Acun Manshur dan KH Abdul Malik Tegallega, KH Dachlan Cipetir (pendiri Muhamadiyah Sukabumi), KH Masthuro (pendiri pesantren Almasthuriyah Tipar Cisaat), juga KH Mahfuz (pesantren Al-Mahfudziyah Ciaul), dan dari tentara, misalnya brigjen Sarbini dan kol. 
Kawilarang (divisi Siliwangi) merupakan figur  pejuang yang menjadikan kota Sukabumi sebagai basis perlawanannya terhadap baik kolonial Belanda maupun Jepang. Sampai kemudian muncul waktu itu semacam adagium, “jika ingin menguasai Jawa Barat, kuasailah Sukabumi” menunjukkan betapa penting dan strategisnya kota Sukabumi. 
Dengan demikian, jati diri kota Sukabumi adalah nilai-nilai Islam, dan kesadaran serta semangat keagamaan. Menjauhkan Sukabumi dari nilai-nilai Islam berarti seperti mengangkat ikan dari air.   
Sukabumi hanya akan menjadi KOTA BAROKAH jika kesadaran dan nilai-nilai Islam teraktualisasikan dalam kehidupan warganya, para birokrat dan pemimpin daerahnya,  dan dalam manajemen pemerintahannya. 
Karena kesadaran akan Islam itulah, semua warga menjadi “reugreug”. Ketenangan dan sikap keberagamaan warga menjadi dasar terwujudnya hidup yang berdampingan secara damai. Tak ada pertentangan agama. Meski jumlah gereja di kota ini banyak,  hubungan Muslim-Kristen berjalan sangat baik. Bahkan salah seorang tokoh Protestan, dr. Winata, memiliki hubungan yang amat baik dengan para kiyai. Dia merupakan salah seorang teman KH Ahmad Sanusi dan ayah saya serta ikut berjuang pada masa kemerdekaan dengan memasok senjata.  
“Reugreug”  menjadi sebuah penggambaran dari sikap  warga Sukabumi yang merasakan kenyamanan dan ketenteraman karena mereka mengamalkan nilai-nilai agama. Semua orang yang hidup di kota Sukabumi akan merasa tidak lagi “reugreug”  jika budaya yang berkembang dalam pergaulan antar mereka tidak lagi bertumpu pada budaya yang agamis.
Setelah ikatan agama telah mengakar demikian kuat (pageuh), masyarakat pun menjadi tenteram dan nyaman (reugreug), dan kemudian bermuaralah pada sikap Repeh-rapih. Saling menghargai, menghormati serta saling dukung dan saling dorong dalam kebaikan dalam bingkai amar ma’ruf nahi munkar yang dilakukan secara santun dan penuh kearifan. Repeh bakal terwujud karena rapih. Dan rapih hanya akan bias diciptakan karena kesadaran agama yang intens.