Info Seputar Sukabumi

Tampilkan postingan dengan label Sukabumi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sukabumi. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 April 2018

Reugreug Pageuh Repeh Rapih

Reugreug Pageuh Repeh Rapih

Nama yang amat bersahaja tapi berfaedah berisi, “Reugreug Pageuh Repeh Rapih”. tentulah sekarakter suarahati hasil konsentrasi berisi. sekat ini wajib jadi gili-gili yang reugreug pageuh yang menetas situasi yang repeh rapih. berat tulanghitam aku, “Reugreug Pageuh” memanglah landasan, dan “Repeh Rapih” merupakan hasil. 

Namun  tak urung  muncul juga pertanyaan. Pertama,  apakah  “pageuh”  yang menjadikan “reugreug”  atau sebaliknya.  Karena “reugeug”  bermakna tenang, aman, nyaman,  merasa happy dan berbagai gambaran emosi lain yang senada dengan itu. Sementara  “pageuh” artinya kuat dan mengakar. Mungkinkan sesuatu itu dirasakan “reugreug”  kalau tidak “pageuh”.  Secara logika mestinya semboyannya “pageuh reugreug”  meskipun secara rasa kebahasaan,  “reugreug pageuh” terasa lebih puitis dan lebih enak diucapkan. 
Pengertian “pageuh”  itu bermanka ikatan, yaitu ikatan yang berwujud kesadaran keagamaan yang demikian intens dalam kehidupan warga kota Sukabumi. Dan saya masih ingat betul, kota ini dikenal sebagai kota santri.  
Lahirnya ulama pejuang seperti KH Ahmad Sanusi, KH Dadun Abdul Qahhar (meski selanjutnya beliau pindah ke Cibadak) dan  Mr. Syamsudin, tidak bisa dilepaskan dari kehadiran pesantren Syamsul-Ulum  Gunungpuyuh yang selama puluhan tahun menjadi pusat pengkaderan para ulama di Jawa Barat.  
Berawal dari pesantren Cantayan, pindah ke Gunungpuyuh, lalu menyebar ke banyak tempat : Ad-Da’wah Cibadak, Ibadurrahman Tegallega, Mifathul-huda Cibatu Cisaat, Gunung Handeuleum Bogor, dan pusat-pusat pengkaderan lainnya. 
Dan kota Sukabumi waktu itu menjadi “pusat”  berkumpulnya para ulama pergerakan. Sebutlah misalnya nama-nama lain : KH Noor Ali Bekasi, KH Soleh Iskandar Bogor, KH Acun Manshur dan KH Abdul Malik Tegallega, KH Dachlan Cipetir (pendiri Muhamadiyah Sukabumi), KH Masthuro (pendiri pesantren Almasthuriyah Tipar Cisaat), juga KH Mahfuz (pesantren Al-Mahfudziyah Ciaul), dan dari tentara, misalnya brigjen Sarbini dan kol. 
Kawilarang (divisi Siliwangi) merupakan figur  pejuang yang menjadikan kota Sukabumi sebagai basis perlawanannya terhadap baik kolonial Belanda maupun Jepang. Sampai kemudian muncul waktu itu semacam adagium, “jika ingin menguasai Jawa Barat, kuasailah Sukabumi” menunjukkan betapa penting dan strategisnya kota Sukabumi. 
Dengan demikian, jati diri kota Sukabumi adalah nilai-nilai Islam, dan kesadaran serta semangat keagamaan. Menjauhkan Sukabumi dari nilai-nilai Islam berarti seperti mengangkat ikan dari air.   
Sukabumi hanya akan menjadi KOTA BAROKAH jika kesadaran dan nilai-nilai Islam teraktualisasikan dalam kehidupan warganya, para birokrat dan pemimpin daerahnya,  dan dalam manajemen pemerintahannya. 
Karena kesadaran akan Islam itulah, semua warga menjadi “reugreug”. Ketenangan dan sikap keberagamaan warga menjadi dasar terwujudnya hidup yang berdampingan secara damai. Tak ada pertentangan agama. Meski jumlah gereja di kota ini banyak,  hubungan Muslim-Kristen berjalan sangat baik. Bahkan salah seorang tokoh Protestan, dr. Winata, memiliki hubungan yang amat baik dengan para kiyai. Dia merupakan salah seorang teman KH Ahmad Sanusi dan ayah saya serta ikut berjuang pada masa kemerdekaan dengan memasok senjata.  
“Reugreug”  menjadi sebuah penggambaran dari sikap  warga Sukabumi yang merasakan kenyamanan dan ketenteraman karena mereka mengamalkan nilai-nilai agama. Semua orang yang hidup di kota Sukabumi akan merasa tidak lagi “reugreug”  jika budaya yang berkembang dalam pergaulan antar mereka tidak lagi bertumpu pada budaya yang agamis.
Setelah ikatan agama telah mengakar demikian kuat (pageuh), masyarakat pun menjadi tenteram dan nyaman (reugreug), dan kemudian bermuaralah pada sikap Repeh-rapih. Saling menghargai, menghormati serta saling dukung dan saling dorong dalam kebaikan dalam bingkai amar ma’ruf nahi munkar yang dilakukan secara santun dan penuh kearifan. Repeh bakal terwujud karena rapih. Dan rapih hanya akan bias diciptakan karena kesadaran agama yang intens.

Rabu, 04 April 2018

Kawah Ratu Sukabumi

Kawah Ratu Sukabumi Jawa Barat

Kawah Ratu Berlokasi di lereng Gunung Salak, Kawah Ratu adalah sebuah kawah aktif yang mengeluarkan uap panas. 

Kawah Ratu adalah tempat favorit para pecinta alam karena untuk dapat mencapai Kawah Ratu, anda harus menempuh perjalanan mendaki melewati jalan setapak selama kurang lebih 3 jam. Bagi pendaki pemula, disarankan untuk tidak mendaki pada malam hari. 

Selain itu, jangan lupa membawa peralatan mendaki seperti sandal gunung, payung, kompas, jas hujan, senter, bekal makanan, dan lain-lain. 

Tidak hanya wisatawan lokal saja yang datang untuk wisata ke Kawah Ratu namun wisatawan dari luar daerah pun banyak yang datang kesana untuk melihat keindahan dari kawah ratu. Usahakan anda menjaga jarak dengan pinggir kawah sebab kawah tersebut memiliki suhu yang sangat panas.

Kawah Ratu merupakan tempat menarik yang bisa dikunjungi oleh para pecinta wisata alam. Yang menjadikan kawah ini berbeda dengan kawah-kawah lain adalah keberedaan aliran sungai. Kawah Ratu dilintasi oleh aliran Sungai Cikuluwung sepanjang kira-kira 1 km. 

Hal itulah yang menjadi daya tarik tersendiri dari kawah ini. Dilihat dari kejauhan, air sungai tersebut terlihat berwarna biru toska. Namun, saat kita mendekat, akan ada warna kuning di dasar sungai yang terlihat dengan jelas. Warna kuning tersebut adalah endapan belerang.

Lokasi Kawah Ratu sendiri bisa dikatan berada di perut Gunung Salak. Karna, kalau meneruskan perjalan dari tempat ini kita akan sampai ke Puncak Salak 1 (2.221 mdpl) dan Puncak Salak 2 (2.180 mdpl) yang terkenal angker itu. Adapun untuk jalur pendakian ke kawah ini sendiri ada tiga jalur yang sudah cukup terkenal. Dua di Bogor dan satu di Sukabumi. 

Berikut ini adalah 3 jalur tersebut:

1. Bumi Perkemahan Cangkuang
Jalur pendakian yang satu ini berada di Kabupaten Sukabumi. Tepatnya di Kecamatan Cidahu. Jalur trekking di Bumi Perkemahan Cangkuang ini memiliki panjang sekitar 4,5 km.
2. Bumi Perkemahan Gunung Bunder
Bumi Perkemahan Gunung Bunder berada di Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Lokasi bumi perkemahan ini berada di dekat pintu gerbang Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Jarak tempuh dari tempat ini ke kawah adalah sekitar 5 km dengan waktu perjalanan sekitar 3 jam.

3. Pasir Reungit
Pasir Reungit merupakan sebuah desa yang juga berada di Kecamatan Pamijahan, Bogor. Lokasi desa ini berada lebih tinggi dari jalur Gunung Bunder yakni pada ketinggian sekitar 1.173 mdpl sehingga jalur trekkingnya lebih pendek yakni sekitar 3,6 km. Estimasi waktunya sekitar 2 jam.

Tebing Panenjoan Sukabumi


Tebing Panenjoan Sukabumi Jawa Barat


Tebing Panenjon berlokasi di daerah desa tamnajaya Kec ciemas sukabumi, dari tempat tersebut anda bisa menikmati pemandangan daratan sukabumi dari atas tebing dengan ketinggian sekiatar 250 mdpl. 

Secara bahasa, panenjoan berasal dari bahasa sunda yaitu dari kata “tenjo” yang artinya melihat. Dengan ketinggian ini, Anda bisa melihat pesona keindahan alam Ciletuh yang tak bertepi. 

Untuk menuju aksebilitas tempat ini pun tidak mudah, anda harus melewati pelabhuan ratu dan di lanjutkan menggunakan boat selama sekitar 30 menit dan di lanjutkan dengan berjalan kaki melewati jalan setapak hingga samapi ke air terjun ini.

Bukit Panenjoan ini menampilkan pertunjukan alam yang menakjubkan. Disebut sebagai mega amfiteater karena kawasan Ciletuh Geopark memiliki wilayah yang sangat luas dan lengkap. Selain itu nama “mega” disematkan pada tempat ini karena orang yang mempromosikan tempat ini untuk pertama kali sehingga seterkenal ini adalah Ibu Mega Fatimah Rosana, beliau adalah Dosen Geologi UNPAD yang sebelumnya melakukan penelitian ditempat ini, dan kemudian di promosikan kepada masyarakat luas sehingga Ciletuh disahkan sebagai Geopark Nasional.

Dari tempat ini sangat terlihat luasnya Samudera Hindia dan terlihat lekukan indah dari pesisir Pantai Palangpang lengkap dengan pulau-pulau kecil yang menghiasi di sekitarnya. Jika cuaca sedang cerah dan bersahabat, kamu bisa melihat lukisan air terjun yang tergambar pada tebing tinggi di kawasan Geopark Ciletuh, air terjun yang paling terlihat adalah Curug Cikanteh.

Dari Bukit Panenjoan ini kamu bisa melihat 3 desa, yaitu desa Ciwaru, desa Mandra Jaya, dan desa Mekar Sakti. Secara morfologi Bukit Panenjoan ini berbentuk seperti tapal kuda dan mirip sebuah mangkuk dengan pemandangan alam yang sangat menakjubkan.

Gunung Gede Pangrango Sukabumi

Gunung Gede Pangrango Sukabumi Jawa Barat

Gunung Gede Pangrango merupakan tempat wisata yang sangat memikat. Dari puncak, Anda bisa melihat Puncak Anak Gunung Krakatau, Gunung Sumatera, perkebunan teh dan taman rekreasi. 

Di kawasan wisata Gunung Gede, terdapat tanaman bunga edelweiss, jika Anda perlu rekreasi untuk mengembalikan vitalitas tubuh, Anda bisa menjajal kolam pemandian air panas, santai di sekitar danau, dan mandi di air terjun.

Gunung Gede berada dalam ruang lingkup Taman Nasional Gede Pangrango, yang merupakan salah satu dari lima taman nasional yang pertama kali diumumkan di Indonesia pada tahun 1980

Gunung ini berada di wilayah tiga kabupaten yaitu Kabupaten Bogor, Cianjur dan Sukabumi, dengan ketinggian 1.000 - 3.000 m. dpl, dan berada pada lintang 106°51' - 107°02' BT dan 64°1' - 65°1 LS. Suhu rata-rata di puncak gunung Gede 18 °C dan di malam hari suhu puncak berkisar 5 °C, dengan curah hujan rata-rata 3.600 mm/tahun. Gerbang utama menuju gunung ini adalah dari Cibodas dan Cipanas.
Gunung Gede diselimuti oleh hutan pegunungan, yang mencakup zona-zona submontana, montana, hingga ke subalpin di sekitar puncaknya. Hutan pegunungan di kawasan ini merupakan salah satu yang paling kaya jenis flora di Indonesia, bahkan di kawasan Malesia.

Gunung Gede mempunyai keadaan alam yang khas dan unik, hal ini menjadikan Gunung Gede sebagai salah satu laboratorium alam yang menarik minat para peneliti sejak lama.

Tercatat pada tahun 1819, C.G.C. Reinwardt sebagai orang yang pertama yang mendaki Gunung Gede, kemudian disusul oleh F.W. Junghuhn (1839-1861), J.E. Teijsmann (1839), A.R. Wallace (1861), S.H. Koorders (1890), M. Treub (1891), W.M. Docters van Leeuwen (1911); dan C.G.G.J. van Steenis (1920-1952) telah membuat koleksi tumbuhan sebagai dasar penyusunan buku The Mountain Flora of Java yang diterbitkan tahun 1972.

Gunung Gede juga memiliki keanekaragaman ekosistem yang terdiri dari formasi-formasi hutan submontana, montana, subalpin; serta ekosistem danau, rawa, dan savana.

Gunung Gede terkenal kaya akan berbagai jenis burung yaitu sebanyak 251 jenis dari 450 jenis yang terdapat di Pulau Jawa. Beberapa jenis di antaranya merupakan burung langka yaitu elang Jawa (Spizaetus bartelsi) dan celepuk jawa (Otus angelinae).

Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango ditetapkan oleh UNESCO sebagai Cagar Biosfir pada tahun 1977, dan sebagai Sister Park dengan Taman Negara

Gunung Gede maupun kawasan Taman Nasional Gede Pangrango juga merupakan objek wisata alam yang menarik dan banyak dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun internasional.

Di Daerah Gunung Gede ada beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi, diantaranya:
  • Telaga Biru. Danau kecil berukuran lima hektare (1.575 meter dpl.) terletak 1,5 km dari pintu masuk Cibodas. Danau ini selalu tampak biru diterpa sinar matahari, karena ditutupi oleh ganggang biru.
  • Air terjun Cibeureum. Air terjun yang mempunyai ketinggian sekitar 50 meter terletak sekitar 2,8 km dari Cibodas. Di sekitar air terjun tersebut dapat melihat sejenis lumut merah yang endemik di Jawa Barat.
  • Air Panas. Terletak sekitar 5,3 km atau 2 jam perjalanan dari Cibodas.
  • Kandang Batu dan Kandang Badak. Untuk kegiatan berkemah dan pengamatan tumbuhan/satwa. Berada pada ketinggian 2.220 m. dpl dengan jarak 7,8 km atau 3,5 jam perjalanan dari Cibodas.
  • Puncak dan Kawah Gunung Gede. Panorama berupa pemandangan matahari terbenam/terbit, hamparan kota Cianjur-Sukabumi-Bogor terlihat dengan jelas, atraksi geologi yang menarik dan pengamatan tumbuhan khas sekitar kawah. Di puncak ini terdapat tiga kawah yang masih aktif dalam satu kompleks yaitu kawah Lanang, Ratu dan Wadon. Berada pada ketinggian 2.958 m. dpl dengan jarak 9,7 km atau 5 jam perjalanan dari Cibodas.
  • Alun-alun Suryakencana. Dataran seluas 50 hektare yang ditutupi hamparan bunga edelweiss. Berada pada ketinggian 2.750 m. dpl dengan jarak 11,8 km atau 6 jam perjalanan dari Cibodas.
Sejarah dan legenda Gunung Gede yang merupakan kepercayaan masyarakat setempat yaitu tentang keberadaan Eyang Suryakancana. Suryakancana adalah Putra dari Dalem Cikundul atau Rd. Aria Wira Tanu I, pendiri Cianjur dan bupati Pertama Cianjur, hasil dari pernikahannya dengan Putri Jin. 
Masyarakat percaya bahwa Eyang Suryakencana yang notabenenya adalah bangsa jin, masih bermukim di sekitar gunung Gede, dan menjadi penguasa bangsa jin di gunung tersebut. Pada saat tertentu, banyak orang khususnya penganut Agama Sunda Wiwitan masuk ke goa-goa sekitar Gunung Gede untuk semedhi / bertapa maupun melakukan upacara religius. 

- Sumber: Wikipedia


Puncak Darma Sukabumi

Puncak Darma Sukabumi Jawa Barat


Puncak Darma terletak di Desa Girimukti, Ciemas, Kabupaten Sukabumi. Memiliki ketinggian 230 mdpl. Untuk mencapainya kamu akan memakan waktu tempuh sekitar 2 jam-an. 

Yang menarik dari tempat ini adalah; di seperempat awal perjalanan kamu akan disuguhkan pemandangan desa-desa dan pohon-pohon yang rindang.

Puncak Darma adalah sebuah puncak yang berada di atas ketinggian tertentu dari permukaan laut dimana kita dapat menyaksikan secara langsung dan lebih dekat pemandangan indah Geopark Ciletuh. 

Dari puncak ini kamu bisa melihat lautan lepas, pulau-pulau kecil seperti Pulau Kunti, Pantai Palangpang, Teluk Ciletuh, pematang sawah nan hijau yang menyegarkan mata, bukit-bukit, dan juga curug-curug yang terlihat dari kejauhan.
Dari Puncak Darma ini kamu juga bisa melihat kapal-kapal tongkang yang mengangkut komoditas yang terlihat seperti batubara, tidak hanya itu saja kamu akan melihat kapal-kapal nelayan yang sedang sibuk mencari ikan. 

Ada juga perkebunan lengkuas, kunyit, jahe dan cengkeh. Percayalah, rasa bosan tidak akan kamu rasakan saat mengunjungi Puncak Darma.

Bukit Karang Numpang Sukabumi

Bukit Karang Numpang Sukabumi Jawa Barat

Bukit Karang Numpang berada di Kecatamatan Guruh Sukabumi ini bisa anda jadikan sebagai tempat ngecamp. Dan pemandangan malam dari atas ketinggian pun tak kalah indahnya dengan pemandangan bukit bintang di yogyakarta. 

Berada di Kecamatan Gunung Guruh, Kabupaten Sukabumi. Bukit yang beberapa waktu belakangan tengah trend di media sosial ini, terbilang baru bagi para wisatawan. Kian hari, kian banyak pendaki yang mengujungi Bukit Karang Numpang. 

Lokasinya sungguh asik untuk memandang indahnya Kota Sukabumi dari jauh. Kamu akan melihat barisan rumah dan lahan persawahan yang tampak seperti miniatur.

Bukit Karang Numpang memiliki panorama alam yang sangat indah, diatasnya kami disuguhi view pedesaan diselimuti kabut tipis dan pesawahan yang hijau serta barisan perbukitan membentuk bingkai alam yang sangat menakjubkan. Bersyukurnya, cuaca saat itu sedang cerah, kombinasi langit biru dan awan putih melengkapi keindahan alam yang ada di Bukit Karang Numpang.

Dari atas bukit, banyak tersebar sejenis batu karang yang berukuran kecil juga berukuran sangat besar. Namun sayangnya, batu karang tersebut terdapat banyak coretan atau vandalisme dan sampah plastik yang dibuang oleh pengunjung diantara sela batu.

Selain batu karang, Bukit Karang Numpang juga banyak ditumbuhi ilalang yang tumbuh secara liar, tingginya antara sekitar 2 sampai 4 meter lebih. Diantar rimbunnya ilalang tersebut terdapat sebuah jalur seperti labirin yang saling menghubungkan satu sama lain ke beberapa spot berfoto lainnya yang ada di Bukit Karang Numpang.

Dari sini, anda bisa melihat indahnya Sukabumi dari ketinggian, barisan rumah dan hamparan alam seolah berada didalam dunia lukisan yang begitu indah.

Pemandian Air Panas Cikundul Sukabumi

Pemandian Air Panas Cikundul Sukabumi Jawa Barat

Pemandian Air Panas Cikundul merupakan tempat wisata yang cukup banyak dikunjungi di Sukabumi. Tempat wisata ini cocok dijadikan sebagai tempat wisata terakhir ketika berada di Sukabumi. Hal itu dikarenakan saat anda lelah berkeliling di tempat wisata di Sukabumi anda bisa meredakan lelah anda dengan berendam di sumber air panas ini. 

Air panas dipercaya bisa menghilangkan kaki pegal-pegal, meredakan gatal-gatal dan menghilangkan nyeri sendi. Tidak hanya itu saja anda akan dibuat terpesona dnegan pengunungan yang ada di sekeliling pemandian air panas tersebut. 

Anda juga bisa melihat Sungai Cimandiri yang unik dan menarik. Keunikan yang ada di Sumber Air panas ini adalah meski hujan turun, air di sumber air panas itu tetap terasa hangat dan panas. 

Air Panas Cikundul dibangun sekitar Tahun 1990, dari jaman dahulu pemandian ini sangat populer di kalangan masyarakat Sukabumi, Jawa Barat. Namun setelah perubahan perkembangan teknologi, nama Air Panas Cikundul lebih dikenal wisatawan domestik maupun wisatawan lokal.

Dengan sumber mata alami dan pemandangan sekitar yang masih alami, menjadikan tempat ini digemari oleh wisatawan. Wisatawan bisa merasakan sensasi mandi air panas sambil menikmati aliran Sungai Cimandiri.

Pemandian Air Panas Cikundul berlokasi di Jalan Proklamasi No. 242, Desa Lembur Situ, Kelurahan Cikundul, Kota Sukabumi, Jawa Barat. Ada dua jenis kolam yang ada di pemandian ini, yakni kolan air panas dan kolam air dingin. Jadi, bagi anda yang mencari pemandian air dingin, disini juga menyediakan. Tidak perlu repot-repot lagi untuk mencari tempat yang menyediakan kolam air dingin.

Menurut Dinas Pariwisata sekitar, tiap tahun ada lonjakan pengunjung sekitar 5% sampai 10%. Pada tahun 2009, kawasan wisata tersebut dilengkapi dengan wisata arung jeram yang memanfaatkan Sungai Cimandiri. Pengembangan yang lainnya adalah dibuatnya rumah pohon yang menambah objek wisata di tempat tersebut. Namun, anda harus hati-hati karena tidak ada pengaman khusus di rumah pohon tersebut.

Pemandian Air Panas Cisolok Sukabumi

Pemandian Air Panas Cisolok Sukabumi Jawa Barat

Pemandian air panas Cisolok merupakan salah satu objek wisata yang harus Anda kunjungi jika ingin melepas lelah atau ingin mengembalikan semangat dan energi tubuh. 

Wisata air panas Cisolok memiliki keistimewaan berupa menyemburnya air dari tiga titik semburan air panas. 

Sumber air panas cisolok adalah pemandian air panas yang terletak berdekatan dengan pantai  pelabuhan ratu ( Cuma berjarak 15 kilometer ). Sesuai namanya wisata ini menawarkan air panas sebagai sajian utama. Awalnya Pemandian air panas cisolok dulunya di temukan oleh warga belanda yang tinggal di sukabumi dan menjadi tempat favorit para belanda pada jaman itu.

Suhu air cukup tinggi, kurang lebih 80 derajat celcius. Lokasi dapat dijangkau dalam waktu kurang lebih 10 menit dari Pantai Pelabuhan Ratu melalui Jl. Cipatuburan Pelabuhanratu.

Pemandian air panas cisolok memiliki hal unik yang membedakan dengan sumber air panas lain yaitu letaknya di daerah pantai dan tidak berada di pegunungan seperti kebanyakan tempat pemandian air panas lainya, dan para pengunjung yang datang kewisata alam sumber air panas cisolok dpat melihat secara langsung air panas yang menyembur dari celah bebatuan di tengah sungai.

Dalam waktu-waktu tertentu jika anda sedang beruntung, anda  dapat menyaksikan primata kususnya kera dan lutung yang berrgelantung di pepohonan di sekeliling pemandian air panas, dan terdapat tiga titik sumber air panas dengan suhu air sekitar 80 derajat celcius,jika tak ingin kulit anda melepuh,, jangan coba coba mandi di sumber air panas tersebut.

Sebenarnya sumber air panas cisolok sendiri tidak menyebur keatas, karena tekanan nya yang tidak terlalu besar, tetapi warga sekitar menumpuk bebatuan di celah – celah pada bagian air yang keluar. Sehingga air menyembur ke atas hingga dad yang mencapai ketinggian sekitar 3 meter. Pemandian ini tentu sajaa menjadi daya Tarik tersendiri bagi pengunjung yang datang.

Wisata alam sumber Air panas yang berada  di cisolok sukabumi bukan berasal dari pemanasan oleh magma di dalam perut bumi, air panas cisolok bersumber  dari Geyser ( Air panas yang melewati kerak bumi ) dimana tekanan dari dalam perut bumi sangat  besar, sehingga  menyebabkan air tanah bersuhu cukup tinggi, dan menyebabkan air panas tersebut menyembur keluar.

Sumber mata air cisolok berasal dari geyser maka air panas di sini tidak mengandung belerang. Tetapi bukan berarti tidak memiliki kasiat, sebab air panas yang keluar dari sumber air panas memiliki kandungan mineral yang tinggi sehingga mampu menyembuhkan penyakit rematik dan penyakit kulit.

Pemandian cipanas terbuka untuk umum dan terbagi dalam 2 kategori jika para pengunjung ingin menikmati air yang menyembur pengunjung dapat menyemburkan diri ke sungai. Sedangkan bagi anda yang ingin lebih santai dan privat dapat memilih ke wilayah kolam kolam yang di sediakan oleh pihak pengelola.anda juga disajikan pemandangan khas yang berada di wilayah pelabuhan ratu.



Geopark Ciletuh Sukabumi

Geopark Ciletuh Sukabumi Jawa Barat


Geopark Ciletuh adalah tempat wisata di Kota Sukabumi yang masih terbilang alami dengan suguhan panorama alam yang sangat memikat, dengan pemandangan pegunungan, pantai, bukit, hingga bebatuan purba. 

Geopark Ciletuh berada di Kecamatan Ciemas. Di area wisata ini juga terdapat air terjun, antara lain Curug Cimarinjung, Curug Cikanteh, Curug Ngelay. dan Puncak Manik. Lama perjalanan menuju Geopark Ciletuh sekitar 5 jam dari pusat Kota Sukabumi. 

Disini anda akan disuguhi sebuah Geopark dengan bentang alam yang unik. Dikawasan ini, anda bisa menikmati bermacam-macam tempat wisata. Ada banyak curug disini seperti curug Cimarinjung, Cikanteh, Sodong, Awang dan Ngelay. Bahkan ada curug yang mendapat julukan little Niagara karena bentuknya yang seperti air terjun Niagara, yakni Curug Awang.

Terletak di kawasan Ciletuh, Sukabumi, Jawa Barat, Geopark Ciletuh dikenal sebagai salah satu taman batu tertua di Pulau Jawa. Kawasan wisata ini pun telah diresmikan oleh UNESCO sebagai salah satu warisan dunia. Dikembangkan dengan basis konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat, kawasan ini kian ramai dan diminati wisatawan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Yuk, Berlibur ke Geopark Ciletuh!", https://travel.kompas.com/read/2017/12/25/103500727/yuk-berlibur-ke-geopark-ciletuh-.
Penulis : WIENDA PUTRI NOVIANTY
Terletak di kawasan Ciletuh, Sukabumi, Jawa Barat, Geopark Ciletuh dikenal sebagai salah satu taman batu tertua di Pulau Jawa. Kawasan wisata ini pun telah diresmikan oleh UNESCO sebagai salah satu warisan dunia. Dikembangkan dengan basis konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat, kawasan ini kian ramai dan diminati wisatawan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Yuk, Berlibur ke Geopark Ciletuh!", https://travel.kompas.com/read/2017/12/25/103500727/yuk-berlibur-ke-geopark-ciletuh-.
Penulis : WIENDA PUTRI NOVIANTY
Terletak di kawasan Ciletuh, Sukabumi, Jawa Barat, Geopark Ciletuh dikenal sebagai salah satu taman batu tertua di Pulau Jawa. Kawasan wisata ini pun telah diresmikan oleh UNESCO sebagai salah satu warisan dunia. Dikembangkan dengan basis konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat, kawasan ini kian ramai dan diminati wisatawan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Yuk, Berlibur ke Geopark Ciletuh!", https://travel.kompas.com/read/2017/12/25/103500727/yuk-berlibur-ke-geopark-ciletuh-.
Penulis : WIENDA PUTRI NOVIANTY
Geopark Ciletuh, merupakan taman alam batuan purba yang terbentuk menjadi indah setelah mengalami pelapukan selama jutaan tahun. Taman ini baru-baru saja diresmikan menjadi Geopark. Di sini, terdapat banyak spot wisata yang wajib dikunjungi satu-persatu. Dari air terjun atau yang biasa disebut curug, pantai, hingga sawah, semuanya sungguh indah.

Geopark Ciletuh memiliki sederetan air terjun, atau yang juga dikenal dengan sebutan curug. Salah satu dan yang paling terkenal adalah Curug Awang. Curug Awang ini juga disebut-sebut sebagai Niagara mini-nya Indonesia. Dari kejauhan, Curug Awang memang menyerupai Air Terjun terbesar di dunia tersebut, Niagara. Jelas saja ini versi mininya. Saat musim penghujan, debit air di air terjun juga meningkat.

Curug Tengah bisa dibilang masih satu saudara dengan Curug Awang. Diberi nama Curug Tengah karena lokasinya yang diapit oleh dua air terjun lainnya, yang merupakan keunikan dari curug yang satu ini. Selain itu, Curug Tengah ini airnya mengalir pas di tengah tebing yang luas. Air yang mengalir dari Curug Tengah ini mengisi danau di bawahnya yang cukup luas untuk berenang.

Curug Cimarinjung sudah bisa terlihat dari pertama kali mulai melangkahkan kaki di Geopark Ciletuh. Curug ini juga merupakan salah satu curug yang mudah dijangkau. Hanya perlu mengikuti jalan setapak sepanjang sekitar 400 meter, maka pemandangan indah Curug Cimarinjung ini sudah bisa dinikmati langsung di depan mata. Deretan tebing-tebing raksasa yang berwarna coklat di sekelilingnya membuat air terjun satu ini terlihat sangat gagah.

Pantai Palangpang merupakan muara dari Curug Cimarinjung. Dari pantai ini, pemandangan indahnya Curug Cimarinjung pun masih terlihat meski dari kejauhan. Pantainya yang berbentuk tapal kuda dipenuhi pasir-pasir yang halus dan sedikit mengandung karang. Tak akan menyakiti kaki meski kamu memutuskan untuk berjalan di pantai tanpa alas kaki.
Dari sederetan air terjun di Geopark Ciletuh, Curug Sodong merupakan yang paling mudah dijangkau. Kamu bisa parkir mobil langsung di depan air terjunnya.

Puncak Darma terdapat di ketinggian 230 mdpl di atas Desa Girimukti, Ciemas, Kabupaten Sukabumi. Untuk mencapai Puncak Darma bisa ditempuh dengan jalan kaki, dengan ojek, atau naik mobil 4 WD. Jika punya banyak waktu, nggak ada salahnya memilih hiking untuk bisa sampai puncak. Dibutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk bisa sampai puncak dan menikmati pemandangan Teluk Ciletuh yang berbentuk tapal kuda dari ketinggian.
Bukit Panenjoan merupakan tebing yang berada di ketinggian sekitar 250 mdpl di atas kawasan Geopark Ciletuh, Desa Taman Jaya Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Bukit ini bisa juga disebut gerbang yang menyambut saat memasuki area Geopark Ciletuh. Dari bukit ini, merupakan spot sempurna untuk menikmati keseluruhan area Geopark Ciletuh dari ketinggian.

Geopark Ciletuh Sukabumi merupakan destinasi wisata yang paling komplit. Selain Pantai, Air Terjun/Curug, Bukit, masih ada Taman, yang disebut Taman Purba dan lainnya.

Pondok Halimun Sukabumi

Pondok Halimun Sukabumi Jawa Barat

Pondok Halimun merupakan destinasi wisata lainnya yang ada di Sukabumi yang harus anda kunjungi Obyek wisata yang ada disini akan menawarkan anda berbagai macam keindahan alam dan juga hawa pegunungan yang masih sepi dan segar. 

Tidak hanya itu saja pengunjung bisa melihat perkebunan teh yang membentang di jalan menuju pondok tersebut. Bisa dikatakan pondok ini cocok bagi wisatawan yang ingin menenangkan diri dan melupakan segala kepenatan yang ada di dalam pikiran. 

Untuk menuju ke tempat ini anda harus menempuh perjalanan sekitar 12 km dari pusat Kota Sukabumi. Pondok Halimun ini banyak disebut dengan PH. PH memiliki hawa yang sejuk dan pemandangan alam yang indah dikarenakan letak deri PH ini berada di ketinggian 1000 meter. 

Banyak kegiatan yang bisa anda lakukan disini diantaranya adalah berkemah, outbond dan lain sebagainya. Pondok Halimun pun sering dijadikan sebagai tempat perkemahan untuk acara persami dan acara perkemahan lainnya.

Lokasi Pondok Halimun Sukabumi berada dekat dengan Selabintana, tepatnya belok ke sebelah kiri dibelokan terakhir jalan menuju Taman Rekreasi Selabintana. Dari belokan tidak terlalu jauh, mungkin sekitar 10-20 menitan.

Transportasi umum untuk menuju ke tempat wisata ini bisa menggunakan angkot, angkot yang sama menuju selabintana tapi agak jarang yang menuju kesini, biasanya kita mesti minta atau booking atau carter bila ingin menggunakan angkot kesini. Disekitar jalan pertigaaan juga biasanya ada ojek, tentu agak mahal kalau ojek. Enaknya pake kendaraan pribadi.

Tiket masuk Pondok Halimun sekitar 3rb untuk pejalanan kaki, 8rb untuk motor, 18rb untuk mobil dan 135rb untuk bus (Harga sewaktu waktu bisa berubah). Untuk beberapa tempat yang berada di Pondok Halimun juga mungkin akan dikenakan tiket tambahan, jadi sediakan saja budget lebih.

Selama perjalanan kamu akan disuguhkan pemandangan perkebunan teh dan pemandangan kota Sukabumi, kamu juga bisa menikmati pemandangan ini sambil ngopi di warung warung yang ada pinggir jalan.

Di Pondok Halimun ini terdapat bumi perkemahan, yaitu Elang Jawa, Bumi Perkemahan Cipelang dan Bumi Perkemahan Pondok Halimun. Disini juga terdapat beberapa penginapan dan playing ground untuk anak serta outbound. Terdapat beberapa warung, biasanya warung disini menyediakan makanan berat, bakso, mie instant, jagung bakar, cemilan dan lain-lain. Terdapat tempat ibadah dan toliet, lengkaplah ya fasilitas disini.

Asal-usul Kampung Ciptagelar Sukabumi

Asal-usul Kampung Ciptagelar Sukabumi
Ada dua buah cerita lisan yang mengetengahkan asal-usul Kampung Ciptagelar. Yang pertama Kampung Ciptagelar berasal dari keturunan Pakuan Pajajaran, yaitu Prabu Siliwangi. Sementara cerita lisan yang kedua berasal dari keturunan Ki Demang Haur Tangtu, yang merupakan salah satu pengawal Prabu Siliwangi. Secara singkat kedua cerita yang dimaksud dapat dikemukakan sebagai berikut.

Di daerah Jawa Barat telah berdiri beberapa kerajaan, di antaranya Kerajaan Sunda. Pada saat kerajaan Sunda diperintah oleh Prabu Siliwangi (warga Kasepuhan Ciptagelar menyebutnya Kanda Hyang atau Galuh Wening Bramasakti), kerajaan ini memiliki sebuah pasukan khusus yang disebut Bareusan Pangawinan. 
Bareusan Pangawinan adalah pasukan khusus kerajaan Sunda yang bersenjata tombak. Anggota pasukan ini dipilih dan dilatih secara langsung oleh para bupati, patih, atau puun. Pelatih secara langsung ini disebut guru alas. Para guru alas ini dianggap memiliki pengalaman, taat, setia, dan memiliki pengetahuan yang luas tentang perang dan kesaktian.

Pasukan khusus Bareusan Pangawinan dipimpin oleh tiga orang, yaitu Demang Haur Tangtu, Guru Alas Lumintang Ken-dungan, dan Puun Buluh Panuh; mereka ditugaskan oleh Prabu Siliwangi untuk menyelamatkan hanjuang bodas dari serangan pasukan Banten (1579). Setelah mendapat tugas tersebut, ketiganya bersama sang raja segera mundur dari Pakuan (ibukota) Padjajaran ke arah selatan, ke sebuah tempat yang disebut Tegal Buleud.

Di daerah Tegal Buleud, Sang Raja membagi-bagi pengikutnya dalam kelompok-kelompok kecil dan memberi kebebasan kepada para pengikutnya tersebut untuk memilih jalan hidup masing-masing. Sang Raja sendiri memilih jalan untuk ngahyang (menghilang dari pandangan mats). Sementara itu, ketiga pimpinan Bareusan Pangawinan bertekad untuk kembali ke dayeuh (kota) yang telah ditinggalkan.

Dalam perjalanan menuju dayeuh, ketiga pimpinan Bareusan Pangawinan sepakat untuk berpisah dan menempuh jalan hidup masing¬masing, tetapi tetap memelihara hubungan satu dengan Iainnya. 
Perjalanan hidup Guru Alas Lumintang Ken-dungan dan Puun Buluh Panuh selanjutnya tidak diceritakan dengan jelas. Sementara itu, Ki Demang Haur Tangtu akhirnya menetap di daerah Guradog (Jasinga) hingga akhir hayatnya. Kuburan Ki Demang Haur Tangtu sekarang ini dikenal dengan sebutan Makam Dalem Tangtu Awileat. 
Di Kampung Guradog ini, Ki Demang Haur Tangtu mempunyai keturunan, yaitu warga yang sekarang bertempat tinggal di daerah Citorek dan dikenal dengan sebutan kasepuhan. Dan turunan Ki Demang inilah asal muasal berkembangnya kelompok sosial Kasepuhan. 
Dalam cerita rakyat daerah Cisolok disebutkan bahwa Ki Demang Haur Tangtu memperistri Nini Tundarasa, seorang gadis dari Kampung Kaduluhur. Nini Tundarasa inilah yang dianggap sebagai leluhur atau nenek moyang warga Kasepuhan Ciptagelar. Setelah menjadi satu di antara beberapa istri Ki Demang Haur Tangtu, Nini Tundarasa pindah dari Kampung Kaduluhur ke Kampung Guradog. Selanjutnya, keturunan mereka berpindah¬pindah tempat tinggal dari satu tempat ke tempat lainnya.

Dalam perjalanan sejarahnya, warga kasepuhan telah berpindah beberapa kali tetapi tetap berada di sekitar daerah Banten, Bogor, dan Sukabumi Selatan. Awal perpindahan dimulai dari Ieluhur mereka, yaitu Nini Tundarasa yang pindah dari Kampung Kaduluhur ke Kampung Guradog.

Satu di antara keturunan Nini Tundarasa bemama Ki Buyut Mar yang lahir di Guradog pindah ke Kampung Lebak Binong (Banten). Anak Ki Buyut Mar yang bernama Aki Buyut Mas kemudian pindah ke Kampung Cipatat (Bogor) yang kini dikenal dengan nama Kasepuhan Urug. Selanjutnya keturunan Aki Buyut Mas yang bernama Aki Wami alias Buyut Gondok memindahkan Kampung Gede ke kampung Lebak Larang (Banten).

Aki Buyut Warni mempunyai dua orang anak laki-laki, yaitu Aki Buyut Kayon dan Aki Buyut San. Aki Buyut Kayon menggantikan ayahnya menjadi sesepuh girang dan memindahkan Kampung Gede ke Kampung Lebak Binong. Pengganti Aki Buyut Kayon, bernama Aki Buyut Arikin memindahkan lagi Kampung Gede ke Kampung Tegallumbu (Banten).

Aki Buyut Arikin mempunyai enam orang anak, yaitu Aki Buyut Sal, Aki Buyut Mak, Aki Buyut In, Nini Buyut As, Aki Buyut Jasiun, dan Aki Buyut Si. Aki Buyut Jasiun atau Ki Ciung ditetapkan sebagai sesepuh girang menggantikan ayahnya Aki Buyut Arikin. 
Sejak masa kepemimpinan Aki Buyut Jasiun atau Ama Jasiun, kasepuhan mulai berkembang ke daerah Sukabumi Selatan. Aki Buyut Jasiun sendiri memindahkan Kampung Gede dari Tegallumbu ke Bojong Cisono (Sukabumi). Aki Jasiun mempunyai dua orang anak, yaitu Aku Buyut Las atau Aki Buyut Rusdi dan Nini Buyut Ari. Pengganti Aki Buyut Jasiun adalah Aki Buyut Rusdi.

Aki Buyut Rusdi memindahkan kedudukan Kampung Gede ke daerah Cicemet (Sukabumi). Perpindahan ini terjadi pada masa pendudukan Jepang. Di Cicemet, Kampung Gede menetap cukup lama sampai masa kemerdekaan hingga terjadinya pemberontakan DUTII. Akibat gangguan dari pemberontak DUTII, pada tahun 1957 Aki Buyut Rusdi memindahkan pusat kasepuhan (Kampung Gede) ke Cikaret. Selanjutnya, terjadi perubahan nama kampung Cikaret menjadi Kampung Sirnaresmi. 
Aki Buyut Rusdi mempunyai empat orang anak, yaitu Nini Buyut Lasm atau Ma Anom, Ama Sup, Abah Ardjo, dan yang keempat tidak disebutkan namanya. Abah Ardjo atau Ki Ardjo kemudian menggantikan ayahnya, Aki Buyut Rusdi menjadi sesepuh girang kasepuhan.

Pada saat menjadi sesepuh girang, Abah Ardjo beberapa kali memindahkan lokasi pusat kasepuhan yang disebut Kampung Gede. Pertama, Abah Ardjo memindahkan Kampung Gede dari Kampung Cidamar ke sebuah kampung di sekitar Kecamatan Cisolok. Kedua, Ki Ardjo lalu memindahkan lagi ke Kampung Ciganas. 
Kampung Ciganas mengalami perubahan nama menjadi Sirnarasa. Ketiga, setelah bermukim selama 8 tahun di Kampung Ciganas, Ki Ardjo memindahkan Kampung Gede ke Kampung Linggarjati. Keempat, Ki Ardjo memindahkan Kampung Gede ke Kampung Ciptarasa.

Ki Ardjo pernah menikah sebanyak tujuh kali dan mempunyai anak tiga belas orang. Dari isteri keenam yang bernama Ma Tarsih mempunyai tiga orang anak, yaitu Encup Sucipta, [is, dan Lia. Dari isteri ketujuh yang bernama Ma Isah mempunyai enam anak.

Setelah Ki Arjo meninggal, anak pertama dari Ma Tarsih yaitu Encup Sucipta, menggantikan kedudukannya sebagai sesepuh girang. Kini, keluarga Abah Ardjo tinggal di rumah yang berada di sekitar rumah sesepuh girang. 
Sesepuh girang pada saat dilakukan pendataan ini (2002) adalah Abah Encup Sucipta. Dia Iebih dikenal dengan nama Abah Anom (Bapak Muda) karena saat dia menerima jabatan sesepuh girang masih berusia muda yaitu 17 tahun. Jabatan sesepuh girang bersifat turun temurun dan selalu diwariskan kepada anak laki-Iaki (tidak harus yang sulung). 

Selain Kasepuhan Ciptagelar, di daerah Banten dan sekitamya terdapat beberapa masyarakat yang menamakan dirinya sebagai kasepuhan, antara lain Kasepuhan Urug (Bogor Selatan), Kasepuhan Citorek, Kasepuhan Cisungsang, Kasepuhan Ciherang, Kasepuhan Cicarucub, dan Kasepuhan Cisitu (semua berada di Banten Selatan) serta Kasepuhan Sirnaresmi (Sukabumi). 
Semua kasepuhan tersebut diikat oleh sebuah lembaga persatuan yang disebut Kesatuan Adat Banten Kidul (Adimihardja, 1989). Pusat kepemimpinan Kesatuan Adat Banten Kidul berada di Kasepuhan Ciptagelar dengan ketuanya Abah Anom Encup Sucipta.
- Sumber: disparbud.jabarprov

Kampung Ciptagelar Sukabumi

Kampung Ciptagelar Sukabumi Jawa Barat


Kampung Ciptagelar adalah sebuah kampung yang berumur sekitar 650 tahun dengan adat turun temurun sehingga berkunjung ke Kampung Ciptagelar akan menjadi sebuah pengalaman yang unik dan tak terlupakan. 

Kampung Ciptagelar terletak di Kecamatan Cisolok, Sukabumi. Untuk bisa melihat wisata budaya dari Kampung Ciptagelar, anda harus melewati perjalanan yang lumayan sulit. namun semua akan terbayarkan karena budaya Kampung Ciptagelar adalah kebudayaan yang tidak dapat anda temui di daerah lain. 

Di kampung ini pula kalian akan menemukan sekelompok masyarakat yang masih memegang tinggi tradisi leluhur. Kelompok masyarakat yang tinggal di kampung ini disebut masyarakat kasepuhan.Tempat wisata yang satu ini pun merupakan sebuah cagar budaya yang sangat terpelihara dan dijaga kelestariannya.

Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar adalah sebuah kampung adat yang mempunyai ciri khas dalam lokasi dan bentuk rumah serta tradisi yang masih dipegang kuat oleh masyarakat pendukungnya. Masyarakat yang tinggal di Kampung Ciptagelar disebut masyarakat kasepuhan. 
Istilah kasepuhan berasal dari kata sepuh dengan awalan /ka/ dan akhiran /an/. Dalam bahasa Sunda, kata sepuh berarti \\\'kolot\\\' atau \\\'tua\\\' dalam bahasa Indonesia. Berdasarkan pengertian ini, muncullah istilah kasepuhan, yaitu tempat tinggal para sesepuh. Sebutan kasepuhan ini pun menunjukkan model \\\'sistem kepemimpinan\\\' dari suatu komunitas atau masyarakat yang berasaskan adat kebiasaan para orang tua (sepuh atau kolot). Kasepuhan berarti \\\'adat kebiasaan tua\\\' atau \\\'adat kebiasaan nenek moyang\\\'. 
Menurut Anis Djatisunda (1984), nama kasepuhan hanya merupakan istilah atau sebutan orang luar terhadap kelompok sosial ini yang pada masa lalu kelompok ini menamakan dirinya dengan istilah keturunan Pancer Pangawinan.

Pada era 1960-an, Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar mempunyai nama khusus yang dapat dianggap sebagai nama asli masyarakat tersebut, yaitu Perbu. Nama Perbu kemudian hilang dan berganti menjadi kasepuhan atau kasatuan. Selain its I, mereka pun disebut dengan istilah masyarakat tradisi.

Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar (selanjutnya ditulis Kampung Ciptagelar) merupakan nama baru untuk Kampung Ciptarasa. Artinya sejak tahun 2001, sekitar bulan Juli, Kampung Ciptarasa yang berasal dari Desa Sirnarasa melakukan "hijrah wangsit" ke Desa Sirnaresmi yang berjarak belasan kilometer. Di desa inilah, tepatnya di Kampung Sukamulya, Abah Anom atau Bapa Encup Sucipta sebagai puncak pimpinan kampung adat memberi nama Ciptagelar sebagai tempat pindahnya yang baru. 
Ciptagelar artinya terbuka atau pasrah. Kepindahan Kampung Ciptarasa ke kampung Ciptagelar lebih disebabkan karena "perintah leluhur" yang disebut wangsit. Wangsit ini diperoleh atau diterima oleh Abah Anom setelah melalui proses ritual beliau yang hasilnya tidak boleh tidak, mesti dilakukan. 
Oleh karena itulah perpindahan kampung adat bagi warga Ciptagelar merupakan bentuk kesetiaan dan kepatuhan kepada leluhurnya. Masyarakat atau warga Kampung Ciptagelar sebenarnya tidak terbatas di kampung tesebut saja tetapi bermukim secara tersebar di sekitar daerah Banten, Bogor, dan Sukabumi Selatan. 
Namun demikian sebagai tempat rujukannya, "pusat pemerintahannya" adalah Kampung Gede, yang dihuni oleh Sesepuh Girang (pemimpin adat), Baris Kolot (para pembantu Sesepuh Girang) dan masyarakat Kasepuhan Ciptagelar yang ingin tinggal sekampung dengan pemimpin adatnya. Kampung Gede adalah sebuah kampung adat karena eksistensinya masih dilingkupi oleh tradisi atau aturan adat warisan leluhur.

Secara administratif, Kampung Ciptagelar berada di wilayah Kampung Sukamulya Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Jarak Kampung Ciptagelar dari Desa Sirnaresmi 14 Km, dari kota kecamatan 27 Km, dari pusat pemerintahan Kabupaten Sukabumi 103 Km dan dari Bandung 203 Km ke arah Barat.

Kampung Ciptagelar dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat (mobil) dan roda dua (motor). Jenis kendaraan roda empat harus mempunyai persyaratan khusus, yakni mempunyai ketinggian badan cukup tinggi di atas tanah serta dalam kondisi prima. 
Apabila tidak mempunyai persyaratan yang dimaksud kecil kemungkinan kendaraan tersebut sampai ke lokasi. Dan umumnya mobil-mobil demikian hanya sampai di kantor Desa Sirnaresmi yang sekaligus merupakan tempat parkirnya. Selebihnya menggunakan kendaraan ojeg atau mobil umum (jenis jeep) yang hanya ada sewaktu-waktu atau jalan kaki.

Guna mencapai lokasi tujuan, ada beberapa pilihan jalur jalan. Pilihan pertama adalah : Sukabumi - Pelabuhanratu. Pelabuhanratu - Cisolok berhenti di Desa Cileungsing. Dari Desa Cileungsing menuju Desa Sirnarasa dan berhenti di Kampung Pangguyangan. 
Di Kampung Pangguyangan semua kendaraan roda empat di parkir dan selanjutnya dari kampung ini menuju Kampung Ciptagelar ditempuh dengan jalan kaki atau naik ojeg. Sebagai catatan, melalui jalur ini kendaraan pribadi hanya sampai di Kampung Pangguyangan mengingat kondisi jalan yang berat.

Pilihan jalur kedua adalah melalui Desa Sirnaresmi. Melalui jalur ini seseorang dapat langsung sampai ke lokasi Kampung Ciptagelar. Hal ini disebabkan kondisi jalan relatif balk dibandingkan dengan jalur melalui Kampung Pangguyangan. Tentu saja kendaraan yang prima dan keterampilan pengendara kendaraan yang lihai merupakan prioritas utama, mengingat kondisi jalan yang berbatu, tikungan yang tajam serta jurang yang curam. 
Jalur pilihan lainnya adalah dari Pelabuhanratu menuju Cisolok, berhenti di Kampung Cimaja. Dari Desa Cimaja menuju Desa Cicadas dengan mengambil kendaraan umum jurusan Cikotok dan berhenti di kantor Desa Sirnaresmi. Dari kantor Desa Sirnaresmi menuju Kampung Ciptagelar.

Dalam hal ini kantor Desa Sirnaresmi menjadi patokan atau titik awal perjalanan menuju Kampung Ciptagelar. Dan di sini pula semua jenis kendaraan yang tidak memenuh persyaratan dititipkan atau diparkirkan. Selanjutnya perjalanan dilakukan dengan naik ojeg atau berjalan kaki. 
Perlu diketahui jalan ber-aspal hanya sampai di kantor Desa Simaresmi. Sementara itu jalan menuju ke Kampung Ciptagelar lebarnya hanya cukup untuk sebuah mobil dengan kondisi jalan berbatu-batu, naik turun dan relatif terjal. Di kiri kanan kadang-kadang dijumpai jurang yang cukup dalam.

Letak geografis Kampung Ciptagelar berada di atas ketinggian 1050 meter di atas permukaan taut. Udaranya sejuk cenderung dingin dengan suhu antara 20° C samDai 26° C dan suhu rata-rata setiaq tahun sekitar 25° C. Kampung Ciptagelar dikelilingi gunung-gunung, yaitu Gunung Surandil, Gunung Karancang, dan Gunung Kendeng.

Taman Nasional Gunung Halimun Salak Sukabumi

Taman Nasional Gunung Halimun Salak Sukabumi

Taman Nasional Gunung Halimun - Salak adalah salah satu taman nasional yang terletak di Jawa bagian barat. Kawasan konservasi dengan luas 113.357 hektare ini menjadi penting karena melindungi hutan hujan dataran rendah yang terluas di daerah ini, dan sebagai wilayah tangkapan air bagi kabupaten-kabupaten di sekelilingnya. Melingkup wilayah yang bergunung-gunung, dua puncaknya yang tertinggi adalah Gunung Halimun (1.929 m) dan Gunung Salak (2.211 m).  

Keanekaragaman hayati yang dikandungnya termasuk yang paling tinggi, dengan keberadaan beberapa jenis fauna penting yang dilindungi di sini seperti elang jawa, macan tutul jawa, owa jawa, surili dan lain-lain. Kawasan TNGHS dan sekitarnya juga merupakan tempat tinggal beberapa kelompok masyarakat adat, antara lain masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul dan masyarakat Baduy.

Taman nasional gunung halimun salak merupakan tempat wisata alam di sukabumi yang mempunyai luas 113.357 hektar ini berlokasi di jalan Raya Cipanas, Kecamatan Kabandungan sukabumi. 

Dikawasan hutan lindung tersebut terdapat berbagai macam air terjun yang bisa anda kunjungi. Dan aliran sungai di kawaan tersebut masih sangat jernih yang bisa anda gunakan untuk bermain air bersama keluarga tercinta. 

Tempat ini juga sering di jadikan sebagai kawasan bumi perkemahan dan juga kegiatan outbound. Kegiatan pembuatan video cpmersil dan juga penilitian juga sering di lakukan di kawasan ini. 

Taman Nasional ini adalah yang terbaik dan satu-satunya yang mempunyai hutan lengkap di Pulau Jawa. Hewan-hewan langka yang dapat dilihat di TNGH adalah owa (Hylobates moloch), surili (Presbytis comata), macan tutul (Panthera pardus), dan elang jawa (Spizaelus barteisi).

Wilayah Gunung Halimun telah ditetapkan menjadi hutan lindung semenjak tahun 1924, luasnya ketika itu 39.941 ha. Kemudian pada 1935 kawasan hutan ini diubah statusnya menjadi Cagar Alam Gunung Halimun. 

Status cagar alam ini bertahan hingga tahun 1992, ketika kawasan ini ditetapkan menjadi Taman Nasional Gunung Halimun dengan luas 40.000 ha, sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 282/Kpts-II/1992 tanggal 28 Februari 1992. 

Sampai dengan lima tahun kemudian, taman nasional yang baru ini pengelolaannya ‘dititipkan’ kepada Taman Nasional Gunung Gede – Pangrango yang wilayahnya berdekatan. Baru kemudian pada 23 Maret 1997, taman nasional ini memiliki unit pengelolaan yang tersendiri sebagai Balai Taman Nasional Gunung Halimun.

Pada tahun 2003 atas dasar SK Menteri Kehutanan No.175/Kpts-II/2003, kawasan hutan BTN Gunung Halimun diperluas, ditambah dengan kawasan hutan-hutan Gunung Salak, Gunung Endut dan beberapa bidang hutan lain di sekelilingnya, yang semula merupakan kawasan hutan di bawah pengelolaan Perum Perhutani

Sebagian besar wilayah yang baru ini, termasuk kawasan hutan G. Salak di dalamnya, sebelumnya berstatus hutan lindung. Namun kekhawatiran atas masa depan hutan-hutan ini, yang terus mengalami tekanan kegiatan masyarakat dan pembangunan di sekitarnya, serta harapan berbagai pihak untuk menyelamatkan fungsi dan kekayaan ekologi wilayah ini, telah mendorong diterbitkannya SK tersebut. 

Dengan ini, maka kini namanya berganti menjadi Balai Taman Nasional Gunung Halimun – Salak, dan luasnya bertambah menjadi 113.357 ha.

- Sumber: wikipedia

Taman Rekreasi Selabintana Sukabumi

Taman Rekreasi Selabintana Sukabumi Jawa Barat

Di Sukabumi, tempat-tempat liburan untuk keluarga terbilang lumayan banyak dan dekat, salah satunya adalah Taman Rekreasi Selabintana. Selain itu ada juga Gunung Sunda, Situ Gunung dan yang lainnya. Tapi yang akan dibahas disini adalah Taman Rekreasi Selabintana.

Taman Rekreasi Selabintana adalah sebuah kawasan hijau, tempat yang lantainya padang rumput hijau yang di sekelilingnya terdapat pohon-pohon. Kebayang gak gimana tempatnya? Asli cocok buat liburan keluarga.

Taman Rekreasi ini terletak sekitar 7 km dari pusat kota Sukabumi. Alamat tempat wisata selabintana ini tepatnya berada di Jalan Selabintana KM 7, Sukabumi, Jawa Barat. Beneran dekat dari pusat kota.

Taman Rekreasi Selabintana adalah sebuah tempat wisata Sukabumi yang menawarkan suasana asri dari hijaunya pegunungan, taman rekreasi ini berlokasi di kaki Gunung Pangrango, sekitar 7 km dari utara kota Sukabumi, dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang wisata. 

Taman Rekreasi Selabintana sangat cocok untuk keluarga yang ingin berpiknik di hijaunya pegunungan yang asri. Fasilitas yang dimiliki oleh Taman Rekreasi Selabintana yaitu: tempat parkir, kolam renang, mushola, toilet, kawasan bermain, lokasi kemah, penginapan, perkebunan teh, hutan lindung, permainan ATV, permainan flying fox, dan fasilitas lainnya. 

Disini anda akan disiguhi taman wisata dengan hamparan rumput luas yang bisa kamu gunakan untuk guling-guling atau menggelar tikar bersama dengan keluarga. Suasana disini sangat sejuk, yang membuat lebih betah menghabiskan waktu disini.

Transportasi menuju ke Taman Rekreasi Selabintana ini juga cukup mudah, dari pusat kota kamu tinggal naik angkutan umum berwarna merah nomor 15, angkutan umum ini biasa ngetem didekat Dago / Toserba Selamat. Ongkosnya paling sekitar 5rb. Lalu untuk tiket masuknya dimulai dari 5rb, kamu yang membawa kendaraan akan dikenakan harga tiket berbeda.

Di tempat ini fasilitasnya terbilang lengkap, tempat ibadah ada, toilet ada, penginapan atau hotel ada, outbond, kolam renang, tempat makan atau jajanan pun banyak, hanya untuk tempat makan ini berada diluar lokasi, tepatnya sebelum pintu gerbang. Disini juga ada tempat jualan tanaman hias dan pernak pernik kerajinan tangan hasil dari alam. Dan untuk beberapa fasilitas seperti outbond dan kolam renang itu dikenakan biaya lagi.

Disini juga kamu bisa melihat Gunung Gede, terlihat jelas jika cuaca cerah. Ada kebun teh juga. Didekat Taman ini juga ada tempat wisata lain, yaitu Pondok Halimun atau biasa disebut PH.

Liburan kesini tidak perlu bawa perlengkapan aneh-aneh, cukup bawa diri saja. Karena nanti disana biasaya masyarakat lokal bakal nawarin kamu buat sewa tiker, harga sewanya sekitar 10rb kalau tidak salah. Gak usah bawa kopi juga, disana banyak masyarakat lokal yang jualan kopi, kopi seduh instant.

Buat kamu yang tak bisa pulang, kamu bisa menginap dihotelnya, di Selabintana Hotel & Conference Resort. Harga mungkin dimulai dari sekitaran 400rb. Lumayan mahal ya hihi. Tapi jika budget terbatas, masih banyak kok hotel-hotel pilihan yang murah disekitar sini, hanya saja tidak terlalu dekat dengan tempat wisatanya.

 

2 Gua Di Sukabumi Jawa Barat

Gua adalah sebuah lubang alami di tanah yang cukup besar dan dalam. Beberapa ilmuwan menjelaskan bahwa dia harus cukup besar sehingga beberapa bagian di dalamnya tidak menerima cahaya matahari; namun dalam penggunaan umumnya pengertiannya cukup luas, termasuk perlindungan batu, gua laut.

Ada 2 Gua Di Sukabumi Jawa Barat, yaitu:

1. Gua Lalay
Gua Lalay Sukabumi
 
Gua Lalay merupakan sebuah gua kelelawar yang keberadaannya tak jauh dari bibir pantai Pelabuhan Ratu. Dari Gua Lalay, Anda bisa menyaksikan keindahan sinar matahari tenggelam bila Anda sudah berada di bibir gua. 

Di dalam gua Anda bisa melihat berbagai bentuk stalakmit dan stalaktit yang masih menitikkan air. Di dalam Gua Lalay terdapat sungai bawah tanah yang sering digunakan oleh penduduk setempat memancing udang. Lokasi bisa dijangkau dalam waktu 1-2 jam melalui Jl. Nasional III dan Jl. Pelabuhan II

2. Gua Buniayu
Gua Buniayu Sukabumi Jawa Barat

Gua Buniayu merupakan tempat wisata di Sukabumi yang paling menghabiskan tenaga. Goa Buniayu adalah goa yang besar dan dalam, untuk dapat menikmati seluruh tantangannya, anda akan membutuhkan badan yang sehat dan kuat. 

Dengan lama perjalanan dalam goa sekitar 5 jam, tenaga anda akan terkuras habis karena medan yang ditempuh tidak hanya berupa jalan lurus saja, melainkan melewati danau lumpur, berpegangan pada pinggir tebing, memanjat tebing, melewati tumpukan batu, dan lain-lain. 

Selama perjalanan dalam goa, anda akan dapat menikmati pemandangan yang tidak dapat anda jumpai di permukaan bumi, sehingga akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Ingat, hanya yang berbadan sehat saja yang dapat menaklukan tantangan Goa Buniayu. 

Di dalam goa, anda akan menemui pemandangan yang tidak bisa anda temui di permukaan bumi, pastinya akan menjadikan hal ini sebagai pengalaman yang tak terlupakan. 

Tempat wisata ini merupakan tempat wisata yang cocok untuk backpacker  yang hobi dengan petualangan.