Info Seputar Sukabumi

Rabu, 04 April 2018

Geopark Ciletuh Sukabumi

Geopark Ciletuh Sukabumi Jawa Barat


Geopark Ciletuh adalah tempat wisata di Kota Sukabumi yang masih terbilang alami dengan suguhan panorama alam yang sangat memikat, dengan pemandangan pegunungan, pantai, bukit, hingga bebatuan purba. 

Geopark Ciletuh berada di Kecamatan Ciemas. Di area wisata ini juga terdapat air terjun, antara lain Curug Cimarinjung, Curug Cikanteh, Curug Ngelay. dan Puncak Manik. Lama perjalanan menuju Geopark Ciletuh sekitar 5 jam dari pusat Kota Sukabumi. 

Disini anda akan disuguhi sebuah Geopark dengan bentang alam yang unik. Dikawasan ini, anda bisa menikmati bermacam-macam tempat wisata. Ada banyak curug disini seperti curug Cimarinjung, Cikanteh, Sodong, Awang dan Ngelay. Bahkan ada curug yang mendapat julukan little Niagara karena bentuknya yang seperti air terjun Niagara, yakni Curug Awang.

Terletak di kawasan Ciletuh, Sukabumi, Jawa Barat, Geopark Ciletuh dikenal sebagai salah satu taman batu tertua di Pulau Jawa. Kawasan wisata ini pun telah diresmikan oleh UNESCO sebagai salah satu warisan dunia. Dikembangkan dengan basis konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat, kawasan ini kian ramai dan diminati wisatawan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Yuk, Berlibur ke Geopark Ciletuh!", https://travel.kompas.com/read/2017/12/25/103500727/yuk-berlibur-ke-geopark-ciletuh-.
Penulis : WIENDA PUTRI NOVIANTY
Terletak di kawasan Ciletuh, Sukabumi, Jawa Barat, Geopark Ciletuh dikenal sebagai salah satu taman batu tertua di Pulau Jawa. Kawasan wisata ini pun telah diresmikan oleh UNESCO sebagai salah satu warisan dunia. Dikembangkan dengan basis konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat, kawasan ini kian ramai dan diminati wisatawan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Yuk, Berlibur ke Geopark Ciletuh!", https://travel.kompas.com/read/2017/12/25/103500727/yuk-berlibur-ke-geopark-ciletuh-.
Penulis : WIENDA PUTRI NOVIANTY
Terletak di kawasan Ciletuh, Sukabumi, Jawa Barat, Geopark Ciletuh dikenal sebagai salah satu taman batu tertua di Pulau Jawa. Kawasan wisata ini pun telah diresmikan oleh UNESCO sebagai salah satu warisan dunia. Dikembangkan dengan basis konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat, kawasan ini kian ramai dan diminati wisatawan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Yuk, Berlibur ke Geopark Ciletuh!", https://travel.kompas.com/read/2017/12/25/103500727/yuk-berlibur-ke-geopark-ciletuh-.
Penulis : WIENDA PUTRI NOVIANTY
Geopark Ciletuh, merupakan taman alam batuan purba yang terbentuk menjadi indah setelah mengalami pelapukan selama jutaan tahun. Taman ini baru-baru saja diresmikan menjadi Geopark. Di sini, terdapat banyak spot wisata yang wajib dikunjungi satu-persatu. Dari air terjun atau yang biasa disebut curug, pantai, hingga sawah, semuanya sungguh indah.

Geopark Ciletuh memiliki sederetan air terjun, atau yang juga dikenal dengan sebutan curug. Salah satu dan yang paling terkenal adalah Curug Awang. Curug Awang ini juga disebut-sebut sebagai Niagara mini-nya Indonesia. Dari kejauhan, Curug Awang memang menyerupai Air Terjun terbesar di dunia tersebut, Niagara. Jelas saja ini versi mininya. Saat musim penghujan, debit air di air terjun juga meningkat.

Curug Tengah bisa dibilang masih satu saudara dengan Curug Awang. Diberi nama Curug Tengah karena lokasinya yang diapit oleh dua air terjun lainnya, yang merupakan keunikan dari curug yang satu ini. Selain itu, Curug Tengah ini airnya mengalir pas di tengah tebing yang luas. Air yang mengalir dari Curug Tengah ini mengisi danau di bawahnya yang cukup luas untuk berenang.

Curug Cimarinjung sudah bisa terlihat dari pertama kali mulai melangkahkan kaki di Geopark Ciletuh. Curug ini juga merupakan salah satu curug yang mudah dijangkau. Hanya perlu mengikuti jalan setapak sepanjang sekitar 400 meter, maka pemandangan indah Curug Cimarinjung ini sudah bisa dinikmati langsung di depan mata. Deretan tebing-tebing raksasa yang berwarna coklat di sekelilingnya membuat air terjun satu ini terlihat sangat gagah.

Pantai Palangpang merupakan muara dari Curug Cimarinjung. Dari pantai ini, pemandangan indahnya Curug Cimarinjung pun masih terlihat meski dari kejauhan. Pantainya yang berbentuk tapal kuda dipenuhi pasir-pasir yang halus dan sedikit mengandung karang. Tak akan menyakiti kaki meski kamu memutuskan untuk berjalan di pantai tanpa alas kaki.
Dari sederetan air terjun di Geopark Ciletuh, Curug Sodong merupakan yang paling mudah dijangkau. Kamu bisa parkir mobil langsung di depan air terjunnya.

Puncak Darma terdapat di ketinggian 230 mdpl di atas Desa Girimukti, Ciemas, Kabupaten Sukabumi. Untuk mencapai Puncak Darma bisa ditempuh dengan jalan kaki, dengan ojek, atau naik mobil 4 WD. Jika punya banyak waktu, nggak ada salahnya memilih hiking untuk bisa sampai puncak. Dibutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk bisa sampai puncak dan menikmati pemandangan Teluk Ciletuh yang berbentuk tapal kuda dari ketinggian.
Bukit Panenjoan merupakan tebing yang berada di ketinggian sekitar 250 mdpl di atas kawasan Geopark Ciletuh, Desa Taman Jaya Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Bukit ini bisa juga disebut gerbang yang menyambut saat memasuki area Geopark Ciletuh. Dari bukit ini, merupakan spot sempurna untuk menikmati keseluruhan area Geopark Ciletuh dari ketinggian.

Geopark Ciletuh Sukabumi merupakan destinasi wisata yang paling komplit. Selain Pantai, Air Terjun/Curug, Bukit, masih ada Taman, yang disebut Taman Purba dan lainnya.

Pondok Halimun Sukabumi

Pondok Halimun Sukabumi Jawa Barat

Pondok Halimun merupakan destinasi wisata lainnya yang ada di Sukabumi yang harus anda kunjungi Obyek wisata yang ada disini akan menawarkan anda berbagai macam keindahan alam dan juga hawa pegunungan yang masih sepi dan segar. 

Tidak hanya itu saja pengunjung bisa melihat perkebunan teh yang membentang di jalan menuju pondok tersebut. Bisa dikatakan pondok ini cocok bagi wisatawan yang ingin menenangkan diri dan melupakan segala kepenatan yang ada di dalam pikiran. 

Untuk menuju ke tempat ini anda harus menempuh perjalanan sekitar 12 km dari pusat Kota Sukabumi. Pondok Halimun ini banyak disebut dengan PH. PH memiliki hawa yang sejuk dan pemandangan alam yang indah dikarenakan letak deri PH ini berada di ketinggian 1000 meter. 

Banyak kegiatan yang bisa anda lakukan disini diantaranya adalah berkemah, outbond dan lain sebagainya. Pondok Halimun pun sering dijadikan sebagai tempat perkemahan untuk acara persami dan acara perkemahan lainnya.

Lokasi Pondok Halimun Sukabumi berada dekat dengan Selabintana, tepatnya belok ke sebelah kiri dibelokan terakhir jalan menuju Taman Rekreasi Selabintana. Dari belokan tidak terlalu jauh, mungkin sekitar 10-20 menitan.

Transportasi umum untuk menuju ke tempat wisata ini bisa menggunakan angkot, angkot yang sama menuju selabintana tapi agak jarang yang menuju kesini, biasanya kita mesti minta atau booking atau carter bila ingin menggunakan angkot kesini. Disekitar jalan pertigaaan juga biasanya ada ojek, tentu agak mahal kalau ojek. Enaknya pake kendaraan pribadi.

Tiket masuk Pondok Halimun sekitar 3rb untuk pejalanan kaki, 8rb untuk motor, 18rb untuk mobil dan 135rb untuk bus (Harga sewaktu waktu bisa berubah). Untuk beberapa tempat yang berada di Pondok Halimun juga mungkin akan dikenakan tiket tambahan, jadi sediakan saja budget lebih.

Selama perjalanan kamu akan disuguhkan pemandangan perkebunan teh dan pemandangan kota Sukabumi, kamu juga bisa menikmati pemandangan ini sambil ngopi di warung warung yang ada pinggir jalan.

Di Pondok Halimun ini terdapat bumi perkemahan, yaitu Elang Jawa, Bumi Perkemahan Cipelang dan Bumi Perkemahan Pondok Halimun. Disini juga terdapat beberapa penginapan dan playing ground untuk anak serta outbound. Terdapat beberapa warung, biasanya warung disini menyediakan makanan berat, bakso, mie instant, jagung bakar, cemilan dan lain-lain. Terdapat tempat ibadah dan toliet, lengkaplah ya fasilitas disini.

Asal-usul Kampung Ciptagelar Sukabumi

Asal-usul Kampung Ciptagelar Sukabumi
Ada dua buah cerita lisan yang mengetengahkan asal-usul Kampung Ciptagelar. Yang pertama Kampung Ciptagelar berasal dari keturunan Pakuan Pajajaran, yaitu Prabu Siliwangi. Sementara cerita lisan yang kedua berasal dari keturunan Ki Demang Haur Tangtu, yang merupakan salah satu pengawal Prabu Siliwangi. Secara singkat kedua cerita yang dimaksud dapat dikemukakan sebagai berikut.

Di daerah Jawa Barat telah berdiri beberapa kerajaan, di antaranya Kerajaan Sunda. Pada saat kerajaan Sunda diperintah oleh Prabu Siliwangi (warga Kasepuhan Ciptagelar menyebutnya Kanda Hyang atau Galuh Wening Bramasakti), kerajaan ini memiliki sebuah pasukan khusus yang disebut Bareusan Pangawinan. 
Bareusan Pangawinan adalah pasukan khusus kerajaan Sunda yang bersenjata tombak. Anggota pasukan ini dipilih dan dilatih secara langsung oleh para bupati, patih, atau puun. Pelatih secara langsung ini disebut guru alas. Para guru alas ini dianggap memiliki pengalaman, taat, setia, dan memiliki pengetahuan yang luas tentang perang dan kesaktian.

Pasukan khusus Bareusan Pangawinan dipimpin oleh tiga orang, yaitu Demang Haur Tangtu, Guru Alas Lumintang Ken-dungan, dan Puun Buluh Panuh; mereka ditugaskan oleh Prabu Siliwangi untuk menyelamatkan hanjuang bodas dari serangan pasukan Banten (1579). Setelah mendapat tugas tersebut, ketiganya bersama sang raja segera mundur dari Pakuan (ibukota) Padjajaran ke arah selatan, ke sebuah tempat yang disebut Tegal Buleud.

Di daerah Tegal Buleud, Sang Raja membagi-bagi pengikutnya dalam kelompok-kelompok kecil dan memberi kebebasan kepada para pengikutnya tersebut untuk memilih jalan hidup masing-masing. Sang Raja sendiri memilih jalan untuk ngahyang (menghilang dari pandangan mats). Sementara itu, ketiga pimpinan Bareusan Pangawinan bertekad untuk kembali ke dayeuh (kota) yang telah ditinggalkan.

Dalam perjalanan menuju dayeuh, ketiga pimpinan Bareusan Pangawinan sepakat untuk berpisah dan menempuh jalan hidup masing¬masing, tetapi tetap memelihara hubungan satu dengan Iainnya. 
Perjalanan hidup Guru Alas Lumintang Ken-dungan dan Puun Buluh Panuh selanjutnya tidak diceritakan dengan jelas. Sementara itu, Ki Demang Haur Tangtu akhirnya menetap di daerah Guradog (Jasinga) hingga akhir hayatnya. Kuburan Ki Demang Haur Tangtu sekarang ini dikenal dengan sebutan Makam Dalem Tangtu Awileat. 
Di Kampung Guradog ini, Ki Demang Haur Tangtu mempunyai keturunan, yaitu warga yang sekarang bertempat tinggal di daerah Citorek dan dikenal dengan sebutan kasepuhan. Dan turunan Ki Demang inilah asal muasal berkembangnya kelompok sosial Kasepuhan. 
Dalam cerita rakyat daerah Cisolok disebutkan bahwa Ki Demang Haur Tangtu memperistri Nini Tundarasa, seorang gadis dari Kampung Kaduluhur. Nini Tundarasa inilah yang dianggap sebagai leluhur atau nenek moyang warga Kasepuhan Ciptagelar. Setelah menjadi satu di antara beberapa istri Ki Demang Haur Tangtu, Nini Tundarasa pindah dari Kampung Kaduluhur ke Kampung Guradog. Selanjutnya, keturunan mereka berpindah¬pindah tempat tinggal dari satu tempat ke tempat lainnya.

Dalam perjalanan sejarahnya, warga kasepuhan telah berpindah beberapa kali tetapi tetap berada di sekitar daerah Banten, Bogor, dan Sukabumi Selatan. Awal perpindahan dimulai dari Ieluhur mereka, yaitu Nini Tundarasa yang pindah dari Kampung Kaduluhur ke Kampung Guradog.

Satu di antara keturunan Nini Tundarasa bemama Ki Buyut Mar yang lahir di Guradog pindah ke Kampung Lebak Binong (Banten). Anak Ki Buyut Mar yang bernama Aki Buyut Mas kemudian pindah ke Kampung Cipatat (Bogor) yang kini dikenal dengan nama Kasepuhan Urug. Selanjutnya keturunan Aki Buyut Mas yang bernama Aki Wami alias Buyut Gondok memindahkan Kampung Gede ke kampung Lebak Larang (Banten).

Aki Buyut Warni mempunyai dua orang anak laki-laki, yaitu Aki Buyut Kayon dan Aki Buyut San. Aki Buyut Kayon menggantikan ayahnya menjadi sesepuh girang dan memindahkan Kampung Gede ke Kampung Lebak Binong. Pengganti Aki Buyut Kayon, bernama Aki Buyut Arikin memindahkan lagi Kampung Gede ke Kampung Tegallumbu (Banten).

Aki Buyut Arikin mempunyai enam orang anak, yaitu Aki Buyut Sal, Aki Buyut Mak, Aki Buyut In, Nini Buyut As, Aki Buyut Jasiun, dan Aki Buyut Si. Aki Buyut Jasiun atau Ki Ciung ditetapkan sebagai sesepuh girang menggantikan ayahnya Aki Buyut Arikin. 
Sejak masa kepemimpinan Aki Buyut Jasiun atau Ama Jasiun, kasepuhan mulai berkembang ke daerah Sukabumi Selatan. Aki Buyut Jasiun sendiri memindahkan Kampung Gede dari Tegallumbu ke Bojong Cisono (Sukabumi). Aki Jasiun mempunyai dua orang anak, yaitu Aku Buyut Las atau Aki Buyut Rusdi dan Nini Buyut Ari. Pengganti Aki Buyut Jasiun adalah Aki Buyut Rusdi.

Aki Buyut Rusdi memindahkan kedudukan Kampung Gede ke daerah Cicemet (Sukabumi). Perpindahan ini terjadi pada masa pendudukan Jepang. Di Cicemet, Kampung Gede menetap cukup lama sampai masa kemerdekaan hingga terjadinya pemberontakan DUTII. Akibat gangguan dari pemberontak DUTII, pada tahun 1957 Aki Buyut Rusdi memindahkan pusat kasepuhan (Kampung Gede) ke Cikaret. Selanjutnya, terjadi perubahan nama kampung Cikaret menjadi Kampung Sirnaresmi. 
Aki Buyut Rusdi mempunyai empat orang anak, yaitu Nini Buyut Lasm atau Ma Anom, Ama Sup, Abah Ardjo, dan yang keempat tidak disebutkan namanya. Abah Ardjo atau Ki Ardjo kemudian menggantikan ayahnya, Aki Buyut Rusdi menjadi sesepuh girang kasepuhan.

Pada saat menjadi sesepuh girang, Abah Ardjo beberapa kali memindahkan lokasi pusat kasepuhan yang disebut Kampung Gede. Pertama, Abah Ardjo memindahkan Kampung Gede dari Kampung Cidamar ke sebuah kampung di sekitar Kecamatan Cisolok. Kedua, Ki Ardjo lalu memindahkan lagi ke Kampung Ciganas. 
Kampung Ciganas mengalami perubahan nama menjadi Sirnarasa. Ketiga, setelah bermukim selama 8 tahun di Kampung Ciganas, Ki Ardjo memindahkan Kampung Gede ke Kampung Linggarjati. Keempat, Ki Ardjo memindahkan Kampung Gede ke Kampung Ciptarasa.

Ki Ardjo pernah menikah sebanyak tujuh kali dan mempunyai anak tiga belas orang. Dari isteri keenam yang bernama Ma Tarsih mempunyai tiga orang anak, yaitu Encup Sucipta, [is, dan Lia. Dari isteri ketujuh yang bernama Ma Isah mempunyai enam anak.

Setelah Ki Arjo meninggal, anak pertama dari Ma Tarsih yaitu Encup Sucipta, menggantikan kedudukannya sebagai sesepuh girang. Kini, keluarga Abah Ardjo tinggal di rumah yang berada di sekitar rumah sesepuh girang. 
Sesepuh girang pada saat dilakukan pendataan ini (2002) adalah Abah Encup Sucipta. Dia Iebih dikenal dengan nama Abah Anom (Bapak Muda) karena saat dia menerima jabatan sesepuh girang masih berusia muda yaitu 17 tahun. Jabatan sesepuh girang bersifat turun temurun dan selalu diwariskan kepada anak laki-Iaki (tidak harus yang sulung). 

Selain Kasepuhan Ciptagelar, di daerah Banten dan sekitamya terdapat beberapa masyarakat yang menamakan dirinya sebagai kasepuhan, antara lain Kasepuhan Urug (Bogor Selatan), Kasepuhan Citorek, Kasepuhan Cisungsang, Kasepuhan Ciherang, Kasepuhan Cicarucub, dan Kasepuhan Cisitu (semua berada di Banten Selatan) serta Kasepuhan Sirnaresmi (Sukabumi). 
Semua kasepuhan tersebut diikat oleh sebuah lembaga persatuan yang disebut Kesatuan Adat Banten Kidul (Adimihardja, 1989). Pusat kepemimpinan Kesatuan Adat Banten Kidul berada di Kasepuhan Ciptagelar dengan ketuanya Abah Anom Encup Sucipta.
- Sumber: disparbud.jabarprov

Kampung Ciptagelar Sukabumi

Kampung Ciptagelar Sukabumi Jawa Barat


Kampung Ciptagelar adalah sebuah kampung yang berumur sekitar 650 tahun dengan adat turun temurun sehingga berkunjung ke Kampung Ciptagelar akan menjadi sebuah pengalaman yang unik dan tak terlupakan. 

Kampung Ciptagelar terletak di Kecamatan Cisolok, Sukabumi. Untuk bisa melihat wisata budaya dari Kampung Ciptagelar, anda harus melewati perjalanan yang lumayan sulit. namun semua akan terbayarkan karena budaya Kampung Ciptagelar adalah kebudayaan yang tidak dapat anda temui di daerah lain. 

Di kampung ini pula kalian akan menemukan sekelompok masyarakat yang masih memegang tinggi tradisi leluhur. Kelompok masyarakat yang tinggal di kampung ini disebut masyarakat kasepuhan.Tempat wisata yang satu ini pun merupakan sebuah cagar budaya yang sangat terpelihara dan dijaga kelestariannya.

Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar adalah sebuah kampung adat yang mempunyai ciri khas dalam lokasi dan bentuk rumah serta tradisi yang masih dipegang kuat oleh masyarakat pendukungnya. Masyarakat yang tinggal di Kampung Ciptagelar disebut masyarakat kasepuhan. 
Istilah kasepuhan berasal dari kata sepuh dengan awalan /ka/ dan akhiran /an/. Dalam bahasa Sunda, kata sepuh berarti \\\'kolot\\\' atau \\\'tua\\\' dalam bahasa Indonesia. Berdasarkan pengertian ini, muncullah istilah kasepuhan, yaitu tempat tinggal para sesepuh. Sebutan kasepuhan ini pun menunjukkan model \\\'sistem kepemimpinan\\\' dari suatu komunitas atau masyarakat yang berasaskan adat kebiasaan para orang tua (sepuh atau kolot). Kasepuhan berarti \\\'adat kebiasaan tua\\\' atau \\\'adat kebiasaan nenek moyang\\\'. 
Menurut Anis Djatisunda (1984), nama kasepuhan hanya merupakan istilah atau sebutan orang luar terhadap kelompok sosial ini yang pada masa lalu kelompok ini menamakan dirinya dengan istilah keturunan Pancer Pangawinan.

Pada era 1960-an, Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar mempunyai nama khusus yang dapat dianggap sebagai nama asli masyarakat tersebut, yaitu Perbu. Nama Perbu kemudian hilang dan berganti menjadi kasepuhan atau kasatuan. Selain its I, mereka pun disebut dengan istilah masyarakat tradisi.

Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar (selanjutnya ditulis Kampung Ciptagelar) merupakan nama baru untuk Kampung Ciptarasa. Artinya sejak tahun 2001, sekitar bulan Juli, Kampung Ciptarasa yang berasal dari Desa Sirnarasa melakukan "hijrah wangsit" ke Desa Sirnaresmi yang berjarak belasan kilometer. Di desa inilah, tepatnya di Kampung Sukamulya, Abah Anom atau Bapa Encup Sucipta sebagai puncak pimpinan kampung adat memberi nama Ciptagelar sebagai tempat pindahnya yang baru. 
Ciptagelar artinya terbuka atau pasrah. Kepindahan Kampung Ciptarasa ke kampung Ciptagelar lebih disebabkan karena "perintah leluhur" yang disebut wangsit. Wangsit ini diperoleh atau diterima oleh Abah Anom setelah melalui proses ritual beliau yang hasilnya tidak boleh tidak, mesti dilakukan. 
Oleh karena itulah perpindahan kampung adat bagi warga Ciptagelar merupakan bentuk kesetiaan dan kepatuhan kepada leluhurnya. Masyarakat atau warga Kampung Ciptagelar sebenarnya tidak terbatas di kampung tesebut saja tetapi bermukim secara tersebar di sekitar daerah Banten, Bogor, dan Sukabumi Selatan. 
Namun demikian sebagai tempat rujukannya, "pusat pemerintahannya" adalah Kampung Gede, yang dihuni oleh Sesepuh Girang (pemimpin adat), Baris Kolot (para pembantu Sesepuh Girang) dan masyarakat Kasepuhan Ciptagelar yang ingin tinggal sekampung dengan pemimpin adatnya. Kampung Gede adalah sebuah kampung adat karena eksistensinya masih dilingkupi oleh tradisi atau aturan adat warisan leluhur.

Secara administratif, Kampung Ciptagelar berada di wilayah Kampung Sukamulya Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Jarak Kampung Ciptagelar dari Desa Sirnaresmi 14 Km, dari kota kecamatan 27 Km, dari pusat pemerintahan Kabupaten Sukabumi 103 Km dan dari Bandung 203 Km ke arah Barat.

Kampung Ciptagelar dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat (mobil) dan roda dua (motor). Jenis kendaraan roda empat harus mempunyai persyaratan khusus, yakni mempunyai ketinggian badan cukup tinggi di atas tanah serta dalam kondisi prima. 
Apabila tidak mempunyai persyaratan yang dimaksud kecil kemungkinan kendaraan tersebut sampai ke lokasi. Dan umumnya mobil-mobil demikian hanya sampai di kantor Desa Sirnaresmi yang sekaligus merupakan tempat parkirnya. Selebihnya menggunakan kendaraan ojeg atau mobil umum (jenis jeep) yang hanya ada sewaktu-waktu atau jalan kaki.

Guna mencapai lokasi tujuan, ada beberapa pilihan jalur jalan. Pilihan pertama adalah : Sukabumi - Pelabuhanratu. Pelabuhanratu - Cisolok berhenti di Desa Cileungsing. Dari Desa Cileungsing menuju Desa Sirnarasa dan berhenti di Kampung Pangguyangan. 
Di Kampung Pangguyangan semua kendaraan roda empat di parkir dan selanjutnya dari kampung ini menuju Kampung Ciptagelar ditempuh dengan jalan kaki atau naik ojeg. Sebagai catatan, melalui jalur ini kendaraan pribadi hanya sampai di Kampung Pangguyangan mengingat kondisi jalan yang berat.

Pilihan jalur kedua adalah melalui Desa Sirnaresmi. Melalui jalur ini seseorang dapat langsung sampai ke lokasi Kampung Ciptagelar. Hal ini disebabkan kondisi jalan relatif balk dibandingkan dengan jalur melalui Kampung Pangguyangan. Tentu saja kendaraan yang prima dan keterampilan pengendara kendaraan yang lihai merupakan prioritas utama, mengingat kondisi jalan yang berbatu, tikungan yang tajam serta jurang yang curam. 
Jalur pilihan lainnya adalah dari Pelabuhanratu menuju Cisolok, berhenti di Kampung Cimaja. Dari Desa Cimaja menuju Desa Cicadas dengan mengambil kendaraan umum jurusan Cikotok dan berhenti di kantor Desa Sirnaresmi. Dari kantor Desa Sirnaresmi menuju Kampung Ciptagelar.

Dalam hal ini kantor Desa Sirnaresmi menjadi patokan atau titik awal perjalanan menuju Kampung Ciptagelar. Dan di sini pula semua jenis kendaraan yang tidak memenuh persyaratan dititipkan atau diparkirkan. Selanjutnya perjalanan dilakukan dengan naik ojeg atau berjalan kaki. 
Perlu diketahui jalan ber-aspal hanya sampai di kantor Desa Simaresmi. Sementara itu jalan menuju ke Kampung Ciptagelar lebarnya hanya cukup untuk sebuah mobil dengan kondisi jalan berbatu-batu, naik turun dan relatif terjal. Di kiri kanan kadang-kadang dijumpai jurang yang cukup dalam.

Letak geografis Kampung Ciptagelar berada di atas ketinggian 1050 meter di atas permukaan taut. Udaranya sejuk cenderung dingin dengan suhu antara 20° C samDai 26° C dan suhu rata-rata setiaq tahun sekitar 25° C. Kampung Ciptagelar dikelilingi gunung-gunung, yaitu Gunung Surandil, Gunung Karancang, dan Gunung Kendeng.

Taman Nasional Gunung Halimun Salak Sukabumi

Taman Nasional Gunung Halimun Salak Sukabumi

Taman Nasional Gunung Halimun - Salak adalah salah satu taman nasional yang terletak di Jawa bagian barat. Kawasan konservasi dengan luas 113.357 hektare ini menjadi penting karena melindungi hutan hujan dataran rendah yang terluas di daerah ini, dan sebagai wilayah tangkapan air bagi kabupaten-kabupaten di sekelilingnya. Melingkup wilayah yang bergunung-gunung, dua puncaknya yang tertinggi adalah Gunung Halimun (1.929 m) dan Gunung Salak (2.211 m).  

Keanekaragaman hayati yang dikandungnya termasuk yang paling tinggi, dengan keberadaan beberapa jenis fauna penting yang dilindungi di sini seperti elang jawa, macan tutul jawa, owa jawa, surili dan lain-lain. Kawasan TNGHS dan sekitarnya juga merupakan tempat tinggal beberapa kelompok masyarakat adat, antara lain masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul dan masyarakat Baduy.

Taman nasional gunung halimun salak merupakan tempat wisata alam di sukabumi yang mempunyai luas 113.357 hektar ini berlokasi di jalan Raya Cipanas, Kecamatan Kabandungan sukabumi. 

Dikawasan hutan lindung tersebut terdapat berbagai macam air terjun yang bisa anda kunjungi. Dan aliran sungai di kawaan tersebut masih sangat jernih yang bisa anda gunakan untuk bermain air bersama keluarga tercinta. 

Tempat ini juga sering di jadikan sebagai kawasan bumi perkemahan dan juga kegiatan outbound. Kegiatan pembuatan video cpmersil dan juga penilitian juga sering di lakukan di kawasan ini. 

Taman Nasional ini adalah yang terbaik dan satu-satunya yang mempunyai hutan lengkap di Pulau Jawa. Hewan-hewan langka yang dapat dilihat di TNGH adalah owa (Hylobates moloch), surili (Presbytis comata), macan tutul (Panthera pardus), dan elang jawa (Spizaelus barteisi).

Wilayah Gunung Halimun telah ditetapkan menjadi hutan lindung semenjak tahun 1924, luasnya ketika itu 39.941 ha. Kemudian pada 1935 kawasan hutan ini diubah statusnya menjadi Cagar Alam Gunung Halimun. 

Status cagar alam ini bertahan hingga tahun 1992, ketika kawasan ini ditetapkan menjadi Taman Nasional Gunung Halimun dengan luas 40.000 ha, sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 282/Kpts-II/1992 tanggal 28 Februari 1992. 

Sampai dengan lima tahun kemudian, taman nasional yang baru ini pengelolaannya ‘dititipkan’ kepada Taman Nasional Gunung Gede – Pangrango yang wilayahnya berdekatan. Baru kemudian pada 23 Maret 1997, taman nasional ini memiliki unit pengelolaan yang tersendiri sebagai Balai Taman Nasional Gunung Halimun.

Pada tahun 2003 atas dasar SK Menteri Kehutanan No.175/Kpts-II/2003, kawasan hutan BTN Gunung Halimun diperluas, ditambah dengan kawasan hutan-hutan Gunung Salak, Gunung Endut dan beberapa bidang hutan lain di sekelilingnya, yang semula merupakan kawasan hutan di bawah pengelolaan Perum Perhutani

Sebagian besar wilayah yang baru ini, termasuk kawasan hutan G. Salak di dalamnya, sebelumnya berstatus hutan lindung. Namun kekhawatiran atas masa depan hutan-hutan ini, yang terus mengalami tekanan kegiatan masyarakat dan pembangunan di sekitarnya, serta harapan berbagai pihak untuk menyelamatkan fungsi dan kekayaan ekologi wilayah ini, telah mendorong diterbitkannya SK tersebut. 

Dengan ini, maka kini namanya berganti menjadi Balai Taman Nasional Gunung Halimun – Salak, dan luasnya bertambah menjadi 113.357 ha.

- Sumber: wikipedia

Taman Rekreasi Selabintana Sukabumi

Taman Rekreasi Selabintana Sukabumi Jawa Barat

Di Sukabumi, tempat-tempat liburan untuk keluarga terbilang lumayan banyak dan dekat, salah satunya adalah Taman Rekreasi Selabintana. Selain itu ada juga Gunung Sunda, Situ Gunung dan yang lainnya. Tapi yang akan dibahas disini adalah Taman Rekreasi Selabintana.

Taman Rekreasi Selabintana adalah sebuah kawasan hijau, tempat yang lantainya padang rumput hijau yang di sekelilingnya terdapat pohon-pohon. Kebayang gak gimana tempatnya? Asli cocok buat liburan keluarga.

Taman Rekreasi ini terletak sekitar 7 km dari pusat kota Sukabumi. Alamat tempat wisata selabintana ini tepatnya berada di Jalan Selabintana KM 7, Sukabumi, Jawa Barat. Beneran dekat dari pusat kota.

Taman Rekreasi Selabintana adalah sebuah tempat wisata Sukabumi yang menawarkan suasana asri dari hijaunya pegunungan, taman rekreasi ini berlokasi di kaki Gunung Pangrango, sekitar 7 km dari utara kota Sukabumi, dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang wisata. 

Taman Rekreasi Selabintana sangat cocok untuk keluarga yang ingin berpiknik di hijaunya pegunungan yang asri. Fasilitas yang dimiliki oleh Taman Rekreasi Selabintana yaitu: tempat parkir, kolam renang, mushola, toilet, kawasan bermain, lokasi kemah, penginapan, perkebunan teh, hutan lindung, permainan ATV, permainan flying fox, dan fasilitas lainnya. 

Disini anda akan disiguhi taman wisata dengan hamparan rumput luas yang bisa kamu gunakan untuk guling-guling atau menggelar tikar bersama dengan keluarga. Suasana disini sangat sejuk, yang membuat lebih betah menghabiskan waktu disini.

Transportasi menuju ke Taman Rekreasi Selabintana ini juga cukup mudah, dari pusat kota kamu tinggal naik angkutan umum berwarna merah nomor 15, angkutan umum ini biasa ngetem didekat Dago / Toserba Selamat. Ongkosnya paling sekitar 5rb. Lalu untuk tiket masuknya dimulai dari 5rb, kamu yang membawa kendaraan akan dikenakan harga tiket berbeda.

Di tempat ini fasilitasnya terbilang lengkap, tempat ibadah ada, toilet ada, penginapan atau hotel ada, outbond, kolam renang, tempat makan atau jajanan pun banyak, hanya untuk tempat makan ini berada diluar lokasi, tepatnya sebelum pintu gerbang. Disini juga ada tempat jualan tanaman hias dan pernak pernik kerajinan tangan hasil dari alam. Dan untuk beberapa fasilitas seperti outbond dan kolam renang itu dikenakan biaya lagi.

Disini juga kamu bisa melihat Gunung Gede, terlihat jelas jika cuaca cerah. Ada kebun teh juga. Didekat Taman ini juga ada tempat wisata lain, yaitu Pondok Halimun atau biasa disebut PH.

Liburan kesini tidak perlu bawa perlengkapan aneh-aneh, cukup bawa diri saja. Karena nanti disana biasaya masyarakat lokal bakal nawarin kamu buat sewa tiker, harga sewanya sekitar 10rb kalau tidak salah. Gak usah bawa kopi juga, disana banyak masyarakat lokal yang jualan kopi, kopi seduh instant.

Buat kamu yang tak bisa pulang, kamu bisa menginap dihotelnya, di Selabintana Hotel & Conference Resort. Harga mungkin dimulai dari sekitaran 400rb. Lumayan mahal ya hihi. Tapi jika budget terbatas, masih banyak kok hotel-hotel pilihan yang murah disekitar sini, hanya saja tidak terlalu dekat dengan tempat wisatanya.

 

2 Gua Di Sukabumi Jawa Barat

Gua adalah sebuah lubang alami di tanah yang cukup besar dan dalam. Beberapa ilmuwan menjelaskan bahwa dia harus cukup besar sehingga beberapa bagian di dalamnya tidak menerima cahaya matahari; namun dalam penggunaan umumnya pengertiannya cukup luas, termasuk perlindungan batu, gua laut.

Ada 2 Gua Di Sukabumi Jawa Barat, yaitu:

1. Gua Lalay
Gua Lalay Sukabumi
 
Gua Lalay merupakan sebuah gua kelelawar yang keberadaannya tak jauh dari bibir pantai Pelabuhan Ratu. Dari Gua Lalay, Anda bisa menyaksikan keindahan sinar matahari tenggelam bila Anda sudah berada di bibir gua. 

Di dalam gua Anda bisa melihat berbagai bentuk stalakmit dan stalaktit yang masih menitikkan air. Di dalam Gua Lalay terdapat sungai bawah tanah yang sering digunakan oleh penduduk setempat memancing udang. Lokasi bisa dijangkau dalam waktu 1-2 jam melalui Jl. Nasional III dan Jl. Pelabuhan II

2. Gua Buniayu
Gua Buniayu Sukabumi Jawa Barat

Gua Buniayu merupakan tempat wisata di Sukabumi yang paling menghabiskan tenaga. Goa Buniayu adalah goa yang besar dan dalam, untuk dapat menikmati seluruh tantangannya, anda akan membutuhkan badan yang sehat dan kuat. 

Dengan lama perjalanan dalam goa sekitar 5 jam, tenaga anda akan terkuras habis karena medan yang ditempuh tidak hanya berupa jalan lurus saja, melainkan melewati danau lumpur, berpegangan pada pinggir tebing, memanjat tebing, melewati tumpukan batu, dan lain-lain. 

Selama perjalanan dalam goa, anda akan dapat menikmati pemandangan yang tidak dapat anda jumpai di permukaan bumi, sehingga akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Ingat, hanya yang berbadan sehat saja yang dapat menaklukan tantangan Goa Buniayu. 

Di dalam goa, anda akan menemui pemandangan yang tidak bisa anda temui di permukaan bumi, pastinya akan menjadikan hal ini sebagai pengalaman yang tak terlupakan. 

Tempat wisata ini merupakan tempat wisata yang cocok untuk backpacker  yang hobi dengan petualangan. 

Kamis, 22 Maret 2018

3 Danau Di Sukabumi Jawa Barat

Danau Situ Gunung Sukabumi


Sukabumi Jawa Barat selain memiliki pesona keindahan alam dengan 12 Pantai dan 11 Air terjun, juga ada 3 Danau yang melengkapi daa tarik sukabumi untuk wisatawan domestik bahkan turis asing.

Berikut ini adalah 3 Danau Di Sukabumi Jawa Barat:

1. Danau Batu Bacan

Danau Batu bacan Sukabumi

Danau Batu bacan merupakan kawasan wisata danau yang berlokasi di Ds. Bojongharjo, Kec. Cikembar sukabumi. danau ini mempunyai karakteristik air yang berwarna hijau. 

Danau ini dahulunya merupakan pertambangan batu yang dikelola warga sekitar. namun seiring berjlanya waktu tiba tiba air muncul dan menggenangi area pertambangan hingga terbnetuk  menajdi danau yang indah sperti sekarang ini. 

Uniknya danau Bacan tersebut tidak memiliki air resapan yang keluar dari bebetauan yang ada di sekellingnya, Air yang berada di danau tersebut adalah air hujan yang tertampung dari tahun-tahun sebelumnya.

2. Danau Sukarame

Danau Sukarame Sukabumi

Danau Sukarame atau disebut juga Situ Sukarame adalah danau yang terletak di kaki Gunung Salak. Panorama alam yang ditawarkan di kawasan wisata ini sangat indah, hamparan kebun teh yang mengelilingi menambah pesona daya tarik pemandangan sekitar. 

Udara di sini pun juga sangat sejuk dan segar. Memancing dan berselancar adalah kegiatan alam yang menarik untuk dilakukan di situ ini. Situ Sukarame merupakan destinasi favorit yang banyak dikunjungi orang. 

Disini anda akan ditawarkan sebuah pemandangan indah di kawasan wisata dengan hamparan kebun teh yang mengelilinginya. Udara di sini juga sangat sejuk dan segar. Kegiatan alam yang menarik dilakukan antara lain memancing dan berselancar menggunakan tali melintasi situ. 

Tempat wisata ini biasa dijadikan sebagai tempat perkemahan bagi kominitas pramuka. Pemandangan yang hijau serta di kelilingi oleh kebun teh yang sangat luas.

3. Danau Situ  Gunung

Situ Gunung Sukabumi

Situ Gunung adalah sebuah danau yang berlokasi di Kecamatan Kadu Dampit, Sukabumi. Berada di kaki Gunung Pangrango, sektiar 16 KM dari Kota Sukabumi, Situ Gunung adalah sebuah danau yang sangat indah dan hijau. 

Danau ini adalah salah satu lokasi favorit para fotografer Indonesia, terbukti dengan banyaknya jumlah gambar Danau Situ Gunung yang beredar. Seperti layaknya sebuah wisata danau, di sini anda dapat bermain perahu, berpiknik, berkemah, memancing, dan lain-lain. 

Untuk yang baru pertama kali ke Situ Gunung, saya sarankan jangan pada saat malam hari karena jalan ke Situ Gunung masih minim penerangan, selain itu sinyal handphone juga kurang bagus di daerah ini.